SUARAMILENIAL.ID, BUNTOK – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Barito Selatan (Barsel), Kalimantan Tengah, mengerahkan 200 tim gabungan untuk menanggulangi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta bencana kekeringan di wilayah setempat.
Bupati Barito Selatan Eddy Raya Samsuri menyampaikan bahwa pengerahan pasukan ini merupakan langkah terpadu, terkoordinasi, dan melibatkan lintas sektor guna menekan dampak bencana.
"Adapun tim gabungan ini mengutamakan kecepatan respons, efektivitas pemadaman, keselamatan personel dan masyarakat, serta mencegah meluasnya kejadian karhutla," kata Eddy Raya saat rapat evaluasi pencegahan dan penanganan karhutla tingkat Kalimantan Tengah di Palangka Raya.
Pemantauan Hotspot Secara Real-Time
Selain menyiagakan personel, Pemkab Barsel juga memperketat pemantauan titik panas (hotspot) secara berkelanjutan. Data yang bersumber dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dipantau setiap hari sebagai bagian dari sistem peringatan dini karhutla.
Informasi perkembangan titik panas tersebut kemudian diteruskan kepada para camat, Bhabinkamtibmas, Babinsa, Polsek, Koramil, hingga Kepala Desa/Lurah. Hal ini dilakukan agar jajaran di tingkat tapak dapat segera melakukan verifikasi lapangan, patroli, hingga tindakan penanganan awal.
"Dengan mekanisme tersebut, diharapkan setiap indikasi titik api dapat segera ditindaklanjuti, sehingga potensi kebakaran dapat dikendalikan sedini mungkin dan tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas," tutur Eddy.
Puncak Titik Panas Terjadi pada Agustus
Berdasarkan data rekapitulasi Pemkab Barsel, tercatat sebanyak 2.037 titik panas tersebar di enam kecamatan sepanjang periode 1 Januari hingga 30 Agustus 2026.
Puncak kemunculan hotspot terjadi pada bulan Agustus dengan 1.938 titik atau menyumbang sekitar 95,14 persen dari total keseluruhan titik panas. Kecamatan Dusun Hilir menjadi wilayah dengan titik panas tertinggi, yakni mencapai 877 titik (43,03 persen).
Untuk meminimalisasi risiko berulang, Pemkab Barsel memperkuat langkah pencegahan mulai dari deteksi dini, patroli, pendinginan lahan, hingga pemantauan perlindungan masyarakat terdampak. Langkah komprehensif ini diharapkan dapat mendukung terwujudnya target Kalimantan Tengah Bebas Asap 2026
