AS Sita Kapal Tanker Rusia, Moskow: Perlakukan Awak Kami Secara Manusiawi

 

Foto-Dok/CNN Indonesia

SUARAMILENIAL.ID, JAKARTA — Pemerintah Rusia akhirnya angkat suara usai Amerika Serikat menyita kapal tanker berbendera Rusia, Marinera, pada Rabu (7/1). Moskow menegaskan agar Washington memperlakukan awak kapal secara manusiawi dan menghormati hak warga negaranya.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, mengatakan pihaknya terus memantau langkah pasukan AS yang naik ke kapal tanker tersebut. Ia menekankan bahwa terdapat warga negara Rusia di antara awak kapal.

“Dengan mempertimbangkan laporan adanya warga Rusia di antara awak kapal, kami menuntut pihak Amerika memastikan perlakuan yang layak dan manusiawi terhadap mereka,” ujar Zakharova.

Ia juga meminta AS tidak menghalangi kepulangan para awak ke Rusia dalam waktu sesingkat mungkin serta menghormati hak dan kewajiban mereka sebagai warga negara asing.

Nada lebih keras datang dari parlemen Rusia. Anggota parlemen Leonid Slutsky menyebut penyitaan kapal Marinera sebagai bentuk “pembajakan abad ke-21” dan menilai tindakan AS melanggar hukum internasional.

Di sisi lain, militer Amerika Serikat mengonfirmasi penyitaan kapal tersebut. Gedung Putih berdalih Marinera mengangkut minyak yang masuk dalam daftar sanksi AS. Washington bahkan membuka kemungkinan awak kapal menghadapi proses hukum.

Menurut otoritas AS, kapal tersebut masuk dalam daftar “armada bayangan”, yakni jaringan kapal tanker yang diduga digunakan untuk mengangkut minyak secara ilegal dan menghindari sanksi internasional sejak 2024.

Sebelumnya, pada bulan lalu, pasukan AS sempat mencoba mencegat kapal ini di perairan dekat Venezuela, namun gagal menaikinya. Kapal tersebut berhasil melarikan diri sebelum akhirnya disita pekan ini.

Menariknya, kapal tanker itu sebelumnya bernama Bella 1 sebelum resmi masuk dalam daftar kapal Rusia dan berganti nama menjadi Marinera. Rusia juga sempat melayangkan nota diplomatik kepada AS agar menghentikan pengejaran terhadap kapal tersebut.

Ketegangan ini menambah daftar panjang gesekan Moskow–Washington, terutama terkait sanksi, energi, dan konflik geopolitik global.

Sumber : CNN Indonesia

Lebih baru Lebih lama