![]() |
| Nama Haji Boejasin tercatat dalam berbagai ejaan dalam arsip kolonial Hindia Belanda, antara lain Hadji Boeijasin, Hadji Boeiyasin, dan Hadjie Boeyasin. Foto-Istimewa |
Oleh: Mansyur, S.Pd., M.Hum.
BANJARMASIN - Nama Haji Boejasin tercatat dalam berbagai ejaan dalam arsip kolonial Hindia Belanda, antara lain Hadji Boeijasin, Hadji Boeiyasin, dan Hadjie Boeyasin.
Ia merupakan salah seorang tokoh penting dalam Perang Banjar (1859–1906) yang memimpin perlawanan terhadap kolonialisme Belanda di wilayah Tanah Laut, Kalimantan Selatan.
Pada masa itu, wilayah Tanah Laut—termasuk Pelaihari (Pleiarie)—berada di bawah pengawasan Letnan Gubernur sekaligus Panglima Militer Belanda, Kapten Infanteri F. van Genderen.
Di sejumlah wilayah, masyarakat masih memiliki struktur pemerintahan lokal sendiri. Wilayah Pleiarie dan Tabanio, misalnya, dipimpin oleh Kiai Abukusin.
Wilayah Maluka dipimpin Haji Matali, sementara wilayah Satoei berada di bawah kepemimpinan Achmad. Di Pelaihari, pemerintah kolonial juga mengangkat seorang kapten Cina bernama Go Ho.
Susunan administrasi tersebut bertahan hingga 1864. Pada 4 Oktober 1864, Van Genderen digantikan oleh Letnan Satu Infanteri J.H. Romswinckel sebagai administrator yang merangkap komandan militer.
Setahun kemudian, tepatnya pada 17 Agustus 1865, jabatan tersebut kembali berganti kepada Letnan Satu Infanteri P. van Drimmelen.
Haji Boejasin berjuang pada masa Kesultanan Banjar bersama tokoh-tokoh perlawanan lain seperti Demang Lehman dan Kiai Langlang Buana.
Dalam catatan kolonial Belanda, ia dikenal sebagai pejuang muda yang lincah dan sulit dilacak.
Pihak Belanda bahkan menjulukinya sebagai “Berandal Licin” karena pola geraknya yang tak terduga serta taktik serangannya yang kerap menyasar dan membakar tangsi-tangsi militer Belanda.
Nama lengkapnya adalah Haji Muhammad Jasin. Ia lahir di Desa Sabuhur pada 1837 dengan nama kecil Muhammad Yasin.
Sejak masa kanak-kanak hingga remaja, ia dikenal tekun belajar agama dan menjalani kehidupan religius.
Ia menunaikan ibadah haji pada usia relatif muda. Sejak saat itu, dalam berbagai catatan perjuangan, ia lebih dikenal dengan sebutan Haji Boejasin atau Haji Buyasin.
Sejumlah pendapat menyebutkan bahwa Haji Boejasin merupakan seorang penghulu atau tokoh agama.
Untuk ukuran zamannya, posisinya terbilang menonjol: masih muda, telah menunaikan ibadah haji, memiliki pengetahuan agama yang baik, serta berasal dari keluarga berada—sebab perjalanan haji pada abad ke-19 memerlukan biaya besar.
Ketika ia mulai terlibat aktif dalam barisan perlawanan bersama Demang Lehman dan Pangeran Antasari, usianya diperkirakan baru sekitar 20 tahun.
Meski demikian, Demang Lehman melihat potensi kepemimpinan dan keberanian besar pada diri Haji Boejasin.
Catatan pemerintah kolonial Belanda bahkan menyebutnya sebagai salah satu pemuka agama paling fanatik, yang pengaruhnya membuat sebagian besar wilayah Tanah Laut berada dalam kendali pasukan perlawanan yang dipimpinnya.
Dalam arsip kolonial, Haji Boejasin—atau Hadjie Buyassin—disebut memiliki seorang istri bernama Salamah.
Ia dikaruniai dua orang putra, Mohammad Hassan sebagai anak sulung dan Mohammad Nassier sebagai anak bungsu.
Saudara iparnya bernama Sauida. Sementara itu, beberapa pengikut setianya yang tercatat antara lain Mohammad Tanim serta Kudu, yang juga dikenal dengan nama Dula. (Bersambung)
