Hotel Tjimahi, Jejak Persembunyian Raymond Westerling di Cimahi

Foto-Dok/Republika.co.id

SUARAMILENIAL.ID, BANJARMASIN - Hotel Tjimahi di Jalan Jenderal Amir Machmud, Kota Cimahi, Jawa Barat, menyimpan jejak sejarah kelam masa revolusi. 

Bangunan yang didirikan pada 1927 itu disebut pernah menjadi tempat persembunyian Raymond Westerling, tokoh kontroversial yang dikenal sebagai dalang berbagai aksi kekerasan pada akhir masa kolonial Belanda.

Raymond Westerling, yang memiliki nama asli Raymond Pierre Paul Westerling, kerap disebut sebagai penjahat perang. 

Ia memimpin pasukan khusus Belanda, Depot Speciale Troepen (DST), yang bertanggung jawab atas pembantaian warga sipil di Sulawesi Selatan pada 1946–1947. 

Peristiwa itu kemudian dikenal sebagai Pembantaian Westerling, dengan korban yang disebut mencapai puluhan ribu jiwa.

Aksi kekerasan Westerling tidak hanya terjadi di Sulawesi Selatan. Di Jawa Barat, ia juga tercatat sebagai tokoh di balik gerakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA), yang pada 1950 terlibat dalam peristiwa berdarah di Bandung dan menewaskan sekitar 100 prajurit TNI.

Sebelum melarikan diri ke Singapura, Westerling dikabarkan sempat bersembunyi di Hotel Tjimahi, tepatnya di kamar nomor 12. 

Informasi tersebut disampaikan oleh pemilik dan pengelola Hotel Tjimahi saat ini, Thea Gerungan Soetamanggala, cucu dari Nyi Raden Fatimah, pendiri hotel tersebut.

“Betul, sebelum pelariannya ke Singapura, dia pernah tinggal di sini. Ada kaitannya dengan suami oma saya dulu, Nyi Raden Fatimah yang pertama kali membangun hotel ini,” ujar Thea, Rabu (14/1/2026).

Menurut Thea, keberadaan Westerling di hotel itu dimungkinkan melalui perantara seorang warga Prancis yang memiliki hubungan khusus dengan pendiri hotel. 

Namun, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti aktivitas Westerling selama menginap maupun lamanya waktu persembunyian tersebut.

“Kalau kegiatannya saya tidak tahu. Cuma kata oma, dia pernah tinggal di sini,” kata Thea.

Hingga kini, kamar nomor 12 yang disebut pernah ditempati Westerling masih dipertahankan seperti kondisi awal. 

Di dalamnya terdapat satu lemari dan dua tempat tidur berbingkai kayu jati, tertata rapi di ruang bercat hijau muda.

Hotel Tjimahi sendiri kini tengah bersiap untuk dilepas oleh pemiliknya. Thea mengungkapkan keputusan tersebut diambil bukan tanpa pertimbangan. 

Selain faktor biaya operasional, tidak adanya generasi penerus yang melanjutkan pengelolaan hotel menjadi alasan utama.

“Semua juga bilang sayang kalau dijual. Tapi jujur, saya sudah tidak kuat lagi. Sudah eungap, kalau bahasa Sundanya. Mungkin memang sudah waktunya saya melepas ini,” ujar Thea.

Ia menambahkan, ketiga anaknya memilih menekuni jalur karier masing-masing dan tidak ada yang berminat melanjutkan pengelolaan hotel. 

“Anak saya ada tiga, tidak ada yang mau melanjutkan. Mereka fokus di dunia selam. Dua sudah jadi instruktur, satu lagi menyusul,” tuturnya.

Dengan segala kisah yang melekat, Hotel Tjimahi bukan sekadar bangunan tua, melainkan saksi bisu fragmen sejarah kelam yang pernah terjadi di Indonesia.

Sumber : Republika.co.id

Lebih baru Lebih lama