Oleh: Mansyur, S.Pd., M.Hum.
BANJARMASIN - Sebagai pemimpin perlawanan di wilayah Tanah Laut, Haji Boejasin memiliki pengikut yang banyak dan terorganisasi. Keistimewaannya terletak pada gaya kepemimpinan yang langsung terjun ke medan tempur.
Dalam setiap pertempuran melawan Belanda, ia tidak hanya memerintah dari belakang, melainkan kerap berada di garis terdepan bersama anak buahnya.
Catatan kolonial menyebutkan, pada suatu kesempatan Haji Boejasin pernah menyusup ke markas Belanda di Martapura.
Dalam penyusupan tersebut, ia menyerang dan menewaskan sejumlah serdadu Belanda sebelum berhasil meloloskan diri dari kepungan. Selain di Martapura, pertempuran-pertempuran juga terjadi di Cempaka, Sungai Paring, Gunung Landak, dan Tabanio.
Haji Boejasin memiliki sebuah benteng pertahanan yang kuat di Telaga, sebuah kawasan yang terletak di antara Sabuhur dan Batu Tungku. Pada 27 Juli 1859, benteng Telaga dikepung oleh pasukan Belanda dengan kekuatan besar. Namun, kawasan sekitar benteng telah dipasangi jebakan. Ketika pasukan Belanda mulai bergerak, mereka justru terperangkap dalam perangkap-perangkap mematikan tersebut.
Selain menghadapi pasukan kolonial Belanda, Haji Boejasin juga harus berhadapan dengan pasukan pribumi yang berpihak kepada Belanda. Di antaranya adalah seorang tokoh bernama Bahot bersama sekitar 40 pengikutnya yang ditugaskan untuk menaklukkan Tanah Laut, menghancurkan benteng Telaga, dan menumpas perlawanan di bawah pimpinan Haji Boejasin.
Peristiwa perebutan Benteng Tabanio pada Agustus 1859 menjadi bukti lain keberaniannya. Benteng yang saat itu diduduki Belanda berhasil direbut oleh Haji Boejasin bersama Demang Lehman dan Kiai Langlang Buana. Ketika Belanda datang kembali dengan bantuan kapal perang Bone untuk merebut benteng tersebut, perlawanan sengit kembali terjadi. Serangan kedua Belanda pun gagal.
Namun, empat bulan kemudian, pada Desember 1859, Benteng Haji Buyasin di Takisung diserang secara besar-besaran dan berhasil dihancurkan. Haji Boejasin terpaksa menyingkir ke wilayah Pleihari hingga akhirnya mencapai daerah Bati-Bati.
Dalam arsip kolonial juga dicatat bahwa setelah pendudukan kembali Benteng Tabanio, sejumlah tokoh lokal datang bergabung, di antaranya Pembekel Mat Joesoep dan Pembekel Goebar bersama para pengikutnya. Disebutkan bahwa Pangeran Antasari mengangkat Haji Boejasin dan Pembekel Mat Joesoep sebagai pimpinan perlawanan di Tanah Laut. Di benteng tersebut, struktur kepemimpinan diisi oleh Kiai Langlang, Juragan Idis, orang Bugis Oewa Moesa, serta penghulu Haji Doerachman. Atas perintah Pembekel Mat Joesoep, dana perjuangan disalurkan kepada Rendung Ketjil dan sejumlah pemimpin perlawanan lainnya (hlm. 53).
Sejak 1860 hingga 1864, pertempuran terus berlangsung di berbagai wilayah, seperti Pelaihari, Bati-Bati, Tabanio, Satui, Maluka, Tambak Linik, Salingsing, Liang Anggang, Awang Bangkal, dan Tiwingan. Dalam fase ini, Haji Boejasin menerapkan taktik perang gerilya—menyerang secara mendadak dan menghilang ke pedalaman. Karena sulitnya menangkap Haji Boejasin, pemerintah kolonial Belanda bahkan mengeluarkan sayembara dengan hadiah sebesar 1.000 gulden bagi siapa pun yang berhasil menangkap atau membunuhnya.
Koran Nederlandsche Staatscourant edisi 26 Februari 1863 mencatat keterlibatan tokoh bernama Pangeran Praboe yang mula-mula memberontak di wilayah Benoea Ampat (Margasari) sebelum bergabung dengan Haji Boejasin di Simpang Ampat. Upaya penangkapan terhadap para pemimpin perlawanan tersebut berulang kali gagal. Keterangan serupa juga disampaikan Meyners (1886), yang menyebutkan bahwa jaringan perlawanan Antasari, Demang Lehman, dan tokoh-tokoh lainnya memiliki keterkaitan erat dengan Haji Boejasin yang beroperasi di Tanah Laut.
Pada Agustus–September 1863, pasukan Belanda di Tabanio dan Pelaihari mengalami wabah beri-beri. Dalam waktu dua pekan, empat serdadu tewas dan sepuluh lainnya dievakuasi ke Banjarmasin. Situasi ini dimanfaatkan Haji Boejasin untuk terus berpindah tempat dan menghindari kejaran musuh. Diduga pada Desember 1863, ia menetap sementara di wilayah Maluka. Namun, laporan intelijen Belanda pada awal Mei 1864 menyebutkan bahwa Haji Boejasin telah lama bersembunyi di kawasan antara Tambak Linik dan Ujung Selinsing.
Sebagai respons, patroli diperketat. Pada 10 Mei 1864, pasukan patroli dari Tanah Laut dengan kekuatan 65 orang dikerahkan untuk mengawasi wilayah Tambak Linik, Tambak Balayang, dan Tambak Kayu Batu. Patroli tambahan dari Martapura juga diberangkatkan dengan beberapa satuan kecil yang dipimpin perwira Belanda.
Hampir sebulan setelah pelariannya pada 17 Juni 1864, beberapa pengikut Haji Boejasin berhasil ditangkap dan diserahkan kepada pemerintah kolonial di Pelaihari. Mereka antara lain Salimin (Jawa), Dessin (Palembang), dan Seman (Tionghoa), yang diketahui bergabung sejak 1859. Pengikut lain, Djamaluddin dan Baliot, juga ditangkap dan diadili. Dalam putusan pengadilan kolonial tahun 1864, keduanya mengakui bergerak atas perintah Haji Boejasin dan Pembekel Dueraip untuk memaksa penduduk Takisung berpihak pada perlawanan.
Peristiwa dramatis terjadi pada Mei 1864 di Tambak Linik dan Salingsing, wilayah pedalaman Bati-Bati. Haji Boejasin bersama istri dan sembilan pengikutnya terkurung dalam kepungan musuh selama sepuluh hari. Persediaan makanan habis, sehingga mereka hanya bertahan hidup dengan memakan umbut dan buah-buahan hutan. Kepungan dilakukan oleh sekitar 115 serdadu Belanda yang dibantu sekitar 50 orang pasukan pribumi pendukung kolonial. Meski demikian, berkat ketahanan fisik dan bantuan Tuhan, mereka berhasil meloloskan diri.
Ketika kembali ke Sabuhur, Haji Boejasin mendapati rumahnya telah hangus dibakar Belanda. Peristiwa itu tidak memadamkan semangat perlawanan. Catatan kolonial menyebutkan bahwa selama pengejaran, Haji Boejasin dan rombongannya bahkan harus bersembunyi di rawa-rawa selama sepuluh hari, berendam hingga sebatas leher, dan hanya memakan rotan muda, djoenkal, serta sembut. Dengan bantuan seorang tukang jukung, mereka akhirnya menyeberang ke wilayah Udjong Kapar dan bertahan sementara di Ketapie.
Pertempuran-pertempuran berikutnya terjadi di Asam-Asam dan Batu Tungku, di mana Haji Boejasin berhadapan dengan pasukan Bugis dari Pagatan yang berpihak kepada Belanda. Dalam pertempuran Pematang Damar pada November 1865, ia mengalami luka tembak di pundak hingga berlumuran darah. Meski demikian, ia tetap berhasil meloloskan diri dan kembali melanjutkan perlawanan di Gunung Anjal.
Menurut arsip kolonial, pemerintah Belanda kemudian memutuskan untuk melakukan pengejaran besar-besaran. Pada pertengahan November 1865, Letnan P. van Drimmelen memimpin patroli yang terdiri atas serdadu Eropa dan pribumi untuk menangkap Haji Boejasin di Pegunungan Pematang Damar. Setelah perjalanan melelahkan selama tiga hari tiga malam, pasukan tersebut menemukan pondok persembunyian Haji Boejasin di puncak bukit pada 20 November 1865. Meski sempat ditembaki dan terluka, Haji Boejasin kembali berhasil meloloskan diri bersama istri dan beberapa pengikutnya.
Dari pondok tersebut, pasukan Belanda hanya menemukan dua senjata api, tombak, parang, keris, pakaian, perbekalan, dan jimat. Pondok, rumah, serta ladangnya kemudian dihancurkan. Setelah peristiwa itu, Haji Boejasin berpindah ke wilayah perbatasan Martapura dan terus diawasi ketat oleh mata-mata Belanda. Ia berupaya menembus wilayah Dusun Atas melalui jalur sungai dan pegunungan, meskipun harus menghindari rute-rute yang telah dipenuhi patroli kolonial.
Editor : Muhammad Robby
