Ulama Besar yang Menolak Dimuliakan: Kisah Keikhlasan Ibrahim bin Adham

Ibrahim bin Adham dikenal sebagai salah satu ulama besar dalam tradisi tasawuf. Foto-Dok Republika

SUARAMILENIAL.ID, JAKARTA - Ibrahim bin Adham dikenal sebagai salah satu ulama besar dalam tradisi tasawuf. 


Namun, alih-alih mengejar penghormatan dan sanjungan manusia, ia justru memilih jalan sebaliknya: menyamar, hidup sederhana, bahkan rela direndahkan demi menjaga keikhlasan hatinya.


Dalam khazanah tasawuf, kemuliaan sejati tidak diukur dari penghormatan manusia, melainkan dari kedekatan seorang hamba kepada Allah SWT. 


Kisah hidup Ibrahim bin Adham menjadi teladan bagaimana seorang ulama besar menolak kemasyhuran agar tidak terjerumus pada kesombongan batin.


Dikisahkan Fariduddin Attar dalam kitab Tadzkiratul Auliya pada abad ke-12, Ibrahim bin Adham menjalani pengembaraan spiritual selama 14 tahun, menempuh padang pasir dengan penuh doa dan kerendahan diri. 


Perjalanan itu menjadi bagian dari proses penyucian jiwa dan pelepasan diri dari segala bentuk kemegahan dunia.


Saat hampir tiba di Makkah, kabar kedatangannya telah lebih dulu sampai ke para sesepuh Tanah Suci. Mereka pun bersiap menyambut sang ulama dengan penuh penghormatan. 


Namun, Ibrahim bin Adham yang berjalan mendahului rombongan itu tetap aman dalam penyamarannya. 


Ia tidak dikenali karena para pelayan dan penduduk hanya mengetahui namanya, bukan sosoknya.


Ketika para sesepuh berseru bahwa Ibrahim bin Adham hampir tiba dan mereka datang untuk menyambutnya, Ibrahim justru mengambil sikap yang tak terduga. 


Demi menghindari penghormatan, ia berkata kepada mereka, “Apa yang kalian inginkan dari orang bid’ah bernama Ibrahim bin Adham itu?”


Ucapan tersebut memancing kemarahan para sesepuh. Tanpa mengetahui bahwa orang di hadapan mereka adalah sosok yang hendak dimuliakan, mereka menangkap dan memukulinya. 


Dengan nada keras, mereka berkata, “Para sesepuh Tanah Suci sendiri datang menyambut Ibrahim bin Adham, tetapi engkau menyebutnya bid’ah?”


Ibrahim bin Adham tetap pada ucapannya. Ia kembali mengatakan bahwa orang yang dimaksud adalah bid’ah. 


Setelah para sesepuh pergi meninggalkannya, Ibrahim bin Adham berkata kepada dirinya sendiri, “Bukankah dahulu engkau menginginkan sambutan mereka? Kini engkau telah mendapatkannya dalam bentuk pukulan. Alhamdulillah, engkau memperoleh apa yang engkau inginkan.”


Setelah peristiwa itu, Ibrahim bin Adham menetap di Makkah. 


Ia hidup sederhana, dikelilingi oleh beberapa sahabat, dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan bekerja sebagai penjual kayu bakar. 


Pilihan hidup itu menjadi penegasan sikapnya: menjauh dari kemuliaan semu demi menjaga keikhlasan dan ketulusan ibadah.


Sumber : Republika.co.id 

Lebih baru Lebih lama