![]() |
| Menjelang Ramadan, isu stabilitas harga dan inflasi kembali menjadi perhatian utama. Foto-Setia Bakti/suaramilenial.id |
SUARAMILENIAL.ID, BATULICIN — Menjelang Ramadan, isu stabilitas harga dan inflasi kembali menjadi perhatian utama.
Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Selatan menggelar kegiatan capacity building sekaligus refreshment bagi wartawan ekonomi untuk memperkuat pemahaman publik terhadap dinamika perekonomian.
Deputi Kepala Perwakilan BI Kalimantan Selatan Aloysius Donanto H. W. mengatakan, kegiatan ini bertujuan menyegarkan perspektif jurnalis agar mampu melihat keterkaitan kondisi ekonomi lokal dengan perkembangan regional, nasional, hingga global.
“Ini sebagai refreshment untuk teman-teman wartawan ekonomi, supaya bisa melihat relevansi kondisi perekonomian saat ini dengan kondisi di Banua, baik dari sisi lokal, regional, nasional, maupun global,” kata Aloysius.
Menurut dia, peran media sangat strategis dalam menyampaikan informasi ekonomi kepada masyarakat, terutama menjelang Ramadan ketika isu harga bahan pokok kerap menjadi sorotan publik.
“Masyarakat sangat dekat dengan isu stabilitas harga, kesejahteraan, dan inflasi. Itu hal-hal yang paling langsung dirasakan,” ujarnya.
Menjelang Ramadan dan Idulfitri, BI menekankan dua fokus utama, yakni menjaga stabilitas harga serta memastikan ketersediaan uang layak edar sesuai kebutuhan masyarakat.
“Dari sisi BI, fokusnya adalah stabilitas harga dan ketersediaan uang pecahan sesuai kebutuhan masyarakat,” kata Aloysius.
Dalam pengendalian inflasi, BI Kalimantan Selatan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memantau harga di berbagai titik pengukuran.
Selain itu, dilakukan langkah-langkah konkret seperti subsidi transportasi komoditas dan distribusi bahan pokok dari daerah surplus ke wilayah defisit.
“Daerah yang surplus, misalnya telur atau beras, kita dorong distribusinya ke wilayah yang mengalami kekurangan,” ujarnya.
Di Kalimantan Selatan, komoditas yang menjadi perhatian utama menjelang Ramadan antara lain beras, cabai, dan bawang merah, yang kerap menjadi penyumbang inflasi akibat meningkatnya permintaan.
Melalui kegiatan ini, BI berharap wartawan dapat menyampaikan informasi ekonomi secara sederhana, mudah dipahami masyarakat, namun tetap berbasis data.
“Bahasanya sederhana saja, tapi datanya tetap ada. Jangan terlalu rumit, yang penting relevan bagi masyarakat,” kata Aloysius.
Dalam capacity building tersebut, BI juga menghadirkan narasumber dari kantor pusat untuk memberikan perspektif nasional, sehingga pemberitaan ekonomi daerah dapat disajikan lebih komprehensif dan kontekstual.
BI berharap sinergi antara bank sentral, pemerintah daerah, dan media dapat membantu masyarakat menghadapi Ramadan dengan lebih tenang, didukung harga yang stabil dan pasokan kebutuhan pokok yang terjaga.
Reporter : Setia Bakti
Editor : Hendry Rusadi
