
Foto-Dok/CNN Indonesia
SUARAMILENIAL.ID, JAKARTA — Di tengah panasnya konflik global yang bikin harga minyak dunia melonjak, pemerintah Indonesia memilih untuk tetap “tenang” dengan tidak menaikkan harga BBM. Tapi pertanyaannya: ini langkah bijak atau justru berisiko ke depan?
Dunia Lagi Nggak Baik-Baik Saja
Krisis energi mulai terasa di banyak negara setelah konflik di Timur Tengah mengganggu jalur distribusi penting seperti Selat Hormuz. Dampaknya? Harga BBM naik di puluhan negara dan pasokan jadi makin ketat.
Namun di Indonesia, pemerintah masih memilih untuk menahan harga BBM, setidaknya untuk sekarang.
Pemerintah: Masih Aman, Belum Perlu Panik
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menilai kondisi saat ini belum cukup “genting” untuk mengambil langkah ekstrem seperti menaikkan harga atau membatasi BBM subsidi.
Harga minyak dunia memang naik, tapi masih di kisaran US$74 per barel—nggak terlalu jauh dari asumsi APBN 2026 di angka US$70.
Artinya, pemerintah merasa belum waktunya bikin perubahan besar.
Di Balik Ketahanan, Ada Dilema
Di satu sisi, keputusan ini bikin masyarakat bisa “bernapas lega” karena harga BBM tetap stabil. Tapi di sisi lain, beban negara bisa makin berat.
Pengamat energi dari UGM, Fahmy Radhi, menyebut pemerintah ada di posisi serba salah:
• Kalau harga BBM tetap ditahan, subsidi bisa membengkak dan bikin APBN tertekan
• Kalau harga BBM dinaikkan, efeknya langsung ke inflasi dan daya beli masyarakat
Dan dua-duanya sama-sama punya risiko besar.
Nggak Bisa Santai Terlalu Lama
Ekonom dari Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, mengingatkan kalau kebijakan ini cuma aman untuk jangka pendek.
Kalau harga minyak dunia terus tinggi, dampaknya bisa berlapis:
• Subsidi makin besar
• Anggaran negara makin sempit
• Program penting bisa terganggu
Dengan kata lain, “menahan harga” bukan solusi jangka panjang.
Harus Ada Plan B
Menurut para pengamat, pemerintah nggak cukup cuma bilang “stok aman”. Harus ada langkah nyata, seperti:
• Amankan pasokan → tambah cadangan dan cari sumber impor baru
• Hemat energi → kurangi pemborosan, terutama di sektor pemerintah
• Jaga fiskal → subsidi harus lebih tepat sasaran, bukan boros di semua lini
Bahkan ada usulan untuk mengalihkan anggaran dari program lain demi menjaga stabilitas energi—meski ini juga bukan keputusan mudah.
Jadi, Tepat atau Nggak?
Jawabannya: tepat untuk sekarang, tapi berisiko kalau terlalu lama.
Menahan harga BBM memang bisa menjaga kondisi tetap stabil dalam waktu dekat. Tapi tanpa strategi lanjutan, kebijakan ini bisa jadi “bom waktu” buat keuangan negara.
Sumber : CNN Indonesia