Ghifari Javier dan Momentum Kebangkitan Industri Desa di Kalimantan Selatan


Oleh : Muhammad Robby 


Di tengah geliat pembangunan ekonomi nasional yang kian menekankan basis kerakyatan, kehadiran figur muda seperti Ghifari Javier menjadi relevan—bahkan mendesak. 


Bukan semata karena faktor usia, melainkan karena posisi strategis yang kini ia emban sebagai pemimpin Asosiasi Pelaku Usaha Desa Seluruh Indonesia (APUDSI) Kalimantan Selatan, sebuah organisasi yang menghimpun kekuatan ekonomi dari akar rumput desa.


Penunjukan Ghifari tidak datang dalam ruang kosong. Ia hadir di tengah kebutuhan akan kepemimpinan yang mampu menjembatani potensi desa dengan ekosistem ekonomi yang lebih luas. 


Desa tidak lagi bisa dipandang sekadar wilayah administratif, melainkan sebagai pusat produksi, inovasi, dan distribusi ekonomi yang sesungguhnya. 


Dalam konteks ini, kepemimpinan yang memahami praktik bisnis sekaligus realitas sosial menjadi kunci.


Harapan publik Kalimantan Selatan terhadap Ghifari pun terbilang besar. Sebab, berbicara tentang industri pedesaan bukan hanya soal produksi komoditas, melainkan juga menyangkut akses pasar, penguatan kapasitas pelaku usaha, hingga keberanian melakukan ekspansi. 


Dengan latar belakangnya sebagai kader Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) dan pemilik sejumlah usaha, Ghifari memiliki bekal pengalaman yang tidak sedikit. 


Ia memahami bagaimana membangun usaha dari bawah, sekaligus membaca peluang di tingkat yang lebih luas.


Baca Juga:

dr Sulaiman Umar dan Harapan Kepemimpinan Baru di Kalimantan Selatan


Namun, ekspektasi terhadap Ghifari tidak bisa dilepaskan dari konteks kebijakan nasional. 


Pemerintah pusat saat ini tengah mendorong penguatan ekonomi desa melalui program Koperasi Desa Merah Putih. 


Program ini dirancang sebagai instrumen ekonomi kolektif yang tidak hanya menghidupkan aktivitas produksi di desa, tetapi juga memperkuat distribusi dan akses permodalan secara lebih merata.


Di sinilah peran APUDSI menjadi krusial. Organisasi ini memiliki potensi besar sebagai penghubung antara kebijakan pemerintah dan implementasi di lapangan. 


APUDSI dapat menjadi motor penggerak yang memastikan bahwa koperasi desa tidak berhenti sebagai simbol administratif, melainkan benar-benar menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat desa.


Tantangan yang dihadapi tentu tidak ringan. Fragmentasi usaha desa, keterbatasan akses pasar, hingga rendahnya literasi digital masih menjadi persoalan klasik. 


Karena itu, gebrakan Ghifari sangat dinantikan. Ia dituntut tidak hanya menjalankan organisasi, tetapi juga mengonsolidasikan kekuatan ekonomi desa agar lebih terintegrasi.


Setidaknya ada tiga langkah strategis yang dapat menjadi pijakan. 


Pertama, membangun ekosistem usaha desa yang saling terhubung dalam rantai nilai yang jelas—dari produksi hingga pemasaran. 


Kedua, memperkuat peran koperasi desa sebagai pusat aktivitas ekonomi, bukan sekadar lembaga formal. 


Ketiga, membuka akses pasar yang lebih luas melalui digitalisasi dan kemitraan dengan sektor swasta.


Di tengah arus transformasi ekonomi nasional, desa tidak lagi bisa diposisikan sebagai objek pembangunan. Ia harus menjadi subjek, bahkan motor penggerak. 


Dalam kerangka ini, figur seperti Ghifari Javier memiliki peluang besar untuk menciptakan perubahan yang nyata.


Optimisme tentu beralasan. Dengan kombinasi pengalaman bisnis, jejaring organisasi, dan momentum kebijakan pemerintah, kemajuan industri pedesaan di Kalimantan Selatan bukanlah sekadar mimpi. 


Ia dapat menjadi realitas yang terukur dan berkelanjutan.


Pada akhirnya, publik tidak hanya menunggu program, tetapi juga arah dan keberanian. 


Dan di tangan Ghifari Javier, arah kebangkitan industri desa di Kalimantan Selatan kini sedang diuji—apakah akan menjadi lompatan besar, atau sekadar wacana yang berlalu.


Penulis merupakan Pimpinan Umum Media www.suaramilenial.id

Lebih baru Lebih lama