![]() |
| Foto-Dok/CNN Indonesia |
SUARAMILENIAL.ID, JAKARTA – Harga minyak mentah dunia diperkirakan bisa melonjak hingga US$150 per barel jika konflik di kawasan Timur Tengah meluas dan berlangsung dalam waktu lama.
Prediksi tersebut muncul seiring meningkatnya ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Ekonom dari Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai lonjakan harga minyak sangat mungkin terjadi apabila jalur distribusi energi utama dunia terganggu, terutama di Selat Hormuz.
Menurutnya, harga minyak bisa melonjak tajam jika pasar mulai percaya bahwa gangguan pasokan akan berlangsung dalam jangka panjang.
“Angka US$150 per barel bukan sesuatu yang mustahil secara teknis,” ujar Syafruddin.
Ia mencontohkan lonjakan harga minyak pada 2008 yang dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi, melemahnya dolar AS, serta meningkatnya ketidakpastian global.
Meski demikian, Syafruddin melihat pasar saham perusahaan energi belum merespons kenaikan harga minyak seagresif pergerakan komoditas tersebut. Berdasarkan laporan Reuters, saham perusahaan minyak besar hanya naik tipis meskipun harga minyak sempat melonjak tajam.
Hal ini menunjukkan bahwa investor masih menganggap gangguan pasokan sebagai tekanan jangka pendek, bukan perubahan permanen dalam struktur harga energi dunia.
Menurutnya, peluang harga minyak mencapai US$150 per barel memang ada, tetapi syaratnya cukup berat. Konflik harus semakin memburuk, distribusi energi benar-benar lumpuh, serta pasar kehilangan keyakinan bahwa situasi dapat segera pulih.
Tanpa kondisi tersebut, harga minyak kemungkinan bergerak di kisaran US$100 hingga US$120 per barel yang dinilai sebagai zona tekanan serius bagi pasar energi global.
Pandangan serupa juga disampaikan pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi. Ia menilai harga minyak berpotensi menembus US$150 per barel jika perang terus berlangsung dan Selat Hormuz benar-benar ditutup.
Fahmy mencontohkan situasi saat Perang Teluk antara Irak dan Iran, ketika harga minyak dunia sempat mencapai sekitar US$140 per barel meski jalur tersebut tidak ditutup.
“Kalau perang tetap berlangsung dan Selat Hormuz masih ditutup, maka pada saatnya akan mencapai US$150. Dulu waktu Perang Teluk pernah US$140,” kata Fahmy.
Pada perdagangan Senin (9/3), harga minyak mentah acuan Brent Crude Oil sempat melonjak hingga US$104 per barel. Namun harga kemudian terkoreksi menjadi sekitar US$92,45 per barel.
Penurunan harga terjadi setelah Presiden Rusia, Vladimir Putin, melakukan percakapan dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang membahas proposal untuk mempercepat penyelesaian konflik dengan Iran.
Dalam wawancara dengan CBS News, Trump bahkan menyebut konflik dengan Iran kemungkinan akan segera berakhir.
Meski begitu, ketegangan geopolitik masih membayangi pasar energi global. Garda Revolusi Iran juga memperingatkan bahwa Teheran tidak akan mengizinkan ekspor minyak dari kawasan jika serangan AS dan Israel terus berlanjut.
Sementara itu, analis pasar dari IG Group, Tony Sycamore, memperkirakan harga minyak akan bergerak sangat fluktuatif dalam waktu dekat.
Ia memprediksi minyak akan diperdagangkan dalam kisaran luas antara US$75 hingga US$105 per barel, seiring pasar masih terus menunggu perkembangan terbaru dari konflik di Timur Tengah.
Sumber : CNN Indonesia
