
Foto-Dok/CNN Indonesia
SUARAMILENIAL.ID, JAKARTA — Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan awal pekan ini seiring meningkatnya ketegangan konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel. Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Kenaikan harga tersebut bahkan mendorong minyak dunia mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2022. Lonjakan ini terjadi setelah meningkatnya risiko terhadap jalur distribusi energi dari wilayah Teluk yang merupakan salah satu pusat produksi minyak terbesar di dunia.
Mengutip laporan Reuters, harga minyak mentah acuan global Brent melonjak sekitar US$15,24 atau 16,4 persen menjadi US$107,93 per barel. Sebelumnya harga Brent bahkan sempat menembus US$111,04 per barel setelah naik hampir 20 persen dalam perdagangan intraday.
Sementara itu, minyak mentah Amerika Serikat jenis West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami kenaikan tajam. Harga WTI tercatat naik US$16,50 atau sekitar 18,2 persen menjadi US$107,40 per barel, setelah sebelumnya sempat menyentuh level US$111,24 per barel.
Lonjakan ini melanjutkan tren penguatan harga energi yang sudah berlangsung dalam sepekan terakhir. Dalam periode tersebut, harga Brent tercatat melonjak sekitar 27 persen, sedangkan WTI bahkan naik hingga 35,6 persen.
Kenaikan harga minyak dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan dari Timur Tengah akibat konflik militer yang semakin meluas. Situasi semakin memanas setelah sejumlah negara produsen minyak utama di kawasan mulai mengurangi produksi.
Selain itu, pelaku pasar juga mencemaskan kemungkinan gangguan di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi rute utama perdagangan minyak global.
Beberapa negara produsen energi di kawasan Teluk dilaporkan mulai mengambil langkah pengurangan produksi. Irak dan Kuwait disebut telah mengurangi output minyak mereka, sementara sebelumnya Qatar juga memangkas pasokan gas alam cair.
Para analis menilai langkah tersebut dapat memperketat pasokan energi global dalam jangka pendek. Analis komoditas senior dari ANZ, Daniel Hynes, mengatakan pengurangan produksi terjadi karena fasilitas penyimpanan minyak di beberapa negara produsen mulai mendekati batas maksimal.
Menurutnya, langkah tersebut tidak hanya menekan pasokan saat ini, tetapi juga berpotensi memperlambat pemulihan produksi ketika konflik mulai mereda.
Dampak konflik juga terlihat di Irak, di mana produksi minyak dari ladang utama di wilayah selatan dilaporkan turun drastis hingga 70 persen menjadi sekitar 1,3 juta barel per hari. Penurunan ini terjadi karena kesulitan ekspor melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur utama pengiriman energi dari kawasan Teluk.
Sementara itu, perusahaan energi milik negara Kuwait Petroleum Corporation juga dilaporkan mulai mengurangi produksi sejak Sabtu (7/3). Bahkan perusahaan tersebut menetapkan status force majeure atau keadaan darurat terhadap sebagian pengiriman minyaknya.
Ketegangan keamanan di kawasan juga semakin meningkat setelah sejumlah fasilitas energi menjadi sasaran serangan. Di Uni Emirat Arab, kebakaran dilaporkan terjadi di zona industri minyak Fujairah akibat jatuhan puing dari serangan di wilayah tersebut.
Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan berhasil mencegat sebuah drone yang mengarah ke ladang minyak Shaybah, salah satu fasilitas energi strategis negara itu.
Para analis memperingatkan lonjakan harga minyak ini berpotensi memicu kenaikan harga bahan bakar di berbagai negara. Gangguan produksi, hambatan logistik, serta meningkatnya risiko keamanan terhadap jalur distribusi energi diperkirakan dapat membuat harga energi tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan.
Sumber : CNN Indonesia