![]() |
| Foto-Dok/CNN Indonesia |
SUARAMILENIAL.ID, JAKARTA – Harga minyak dunia kembali melonjak tajam pada perdagangan Jumat (13/3). Kenaikan ini membuat harga minyak mencapai level tertinggi sejak Juli 2022 di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Mengutip laporan CNN, kontrak minyak mentah Brent naik 2,67 persen dan ditutup di level US$103,14 per barel. Sementara itu, minyak mentah Amerika Serikat juga menguat 3,11 persen menjadi US$98,71 per barel.
Lonjakan harga tersebut dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya jalur distribusi energi global, terutama di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur pengiriman minyak paling vital di dunia.
Selat Hormuz diketahui menyalurkan sekitar seperlima dari total perdagangan minyak dunia. Ketegangan di wilayah tersebut meningkat setelah konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel terus memanas.
Sebelumnya pada Jumat pagi, harga minyak Brent sempat turun di bawah US$100 per barel, tepatnya di level US$99,75. Namun harga kembali melonjak seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global.
Berbagai upaya sebenarnya telah dilakukan untuk menahan lonjakan harga minyak. Pada Rabu (11/3), International Energy Agency (IEA) menyetujui pelepasan cadangan minyak dalam jumlah besar guna menstabilkan pasar.
Sehari setelahnya, pemerintah Amerika Serikat juga memberikan izin sementara kepada sejumlah negara untuk tetap membeli minyak Rusia yang sebelumnya dikenai sanksi.
Meski demikian, langkah tersebut belum mampu meredakan kekhawatiran pasar. Perhatian investor tetap tertuju pada situasi di Selat Hormuz, terutama setelah Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke Israel serta menyerang sejumlah kapal di jalur tersebut sejak konflik pecah pada 28 Februari lalu.
Situasi keamanan semakin memburuk setelah dua kapal tanker bahan bakar di perairan Irak diserang kapal bermuatan bahan peledak yang diduga berasal dari Iran. Seorang pejabat Irak bahkan menyebut pelabuhan minyak negara itu sempat menghentikan operasinya sepenuhnya.
Selain itu, Oman juga dilaporkan memindahkan seluruh kapal dari terminal ekspor minyak utama di Mina Al Fahal sebagai langkah pencegahan terhadap risiko keamanan yang meningkat.
Di tengah kondisi tersebut, berbagai negara berupaya menjaga jalur pengiriman energi tetap berjalan. Angkatan Laut Amerika Serikat bersama kemungkinan koalisi internasional disebut siap mengawal kapal yang melintas di Selat Hormuz jika situasi militer memungkinkan.
Arab Saudi juga mengambil langkah alternatif dengan mengalihkan rute pengiriman tanker melalui Laut Merah menggunakan pipa East-West guna memastikan pasokan minyak ke pasar global tetap terjaga.
Sementara itu, Iran dilaporkan masih mengizinkan satu hingga dua kapal tanker melintas setiap hari, terutama menuju China, untuk mempertahankan arus pendapatan dari ekspor minyaknya.
Sumber : CNN Indonesia
