OJK: Sektor Jasa Keuangan Tetap Kuat di Tengah Gejolak Global, Investor Pasar Modal Tembus 22,8 Juta

Di tengah ketidakpastian global akibat tensi geopolitik dan dinamika kebijakan perdagangan dunia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga.

SUARAMILENIAL.ID
, JAKARTA
– Di tengah ketidakpastian global akibat tensi geopolitik dan dinamika kebijakan perdagangan dunia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga.

Hal ini ditegaskan dalam hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Februari 2026. OJK menilai ketahanan industri keuangan domestik masih solid, didukung pertumbuhan ekonomi Indonesia yang konsisten dan aktivitas pasar keuangan yang relatif stabil.

Ekonomi global masih berisiko, Indonesia tetap tumbuh

Secara global, pemulihan manufaktur dan kepercayaan konsumen memang membaik. Namun, eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah serta fragmentasi perdagangan internasional berpotensi memicu volatilitas pasar.

Di dalam negeri, ekonomi Indonesia justru menunjukkan performa positif. Pada kuartal IV 2025, pertumbuhan tercatat 5,39 persen (yoy) dan sepanjang 2025 tumbuh 5,11 persen. Keyakinan konsumen tetap optimistis, sementara sektor manufaktur masih berada di zona ekspansi.

Pasar modal fluktuatif, tapi investor makin banyak

Tekanan sempat terasa di pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga akhir Februari 2026 ditutup di 8.235,49, turun tipis 1,13 persen secara bulanan.

Meski begitu, aktivitas transaksi tetap tinggi:

Rata-rata transaksi harian: Rp25,62 triliun

Investor ritel mendominasi 53 persen transaksi

Investor asing mencatat net sell ringan Rp0,36 triliun

Kabar baiknya, minat masyarakat terus melonjak.

Sepanjang Februari saja ada 1,8 juta investor baru, sehingga total investor pasar modal kini mencapai 22,88 juta orang.

Industri reksa dana juga mencatat kinerja solid:

AUM: Rp1.115,7 triliun

NAB reksa dana: Rp726,26 triliun

Net subscription: Rp43,12 triliun (ytd)

Perbankan: kredit dan likuiditas tetap sehat

Dari sektor perbankan, intermediasi masih tumbuh:

Kredit: Rp8.557 triliun (naik 9,96 persen yoy)

DPK: Rp10.076 triliun

CAR: 25,87 persen

NPL gross: 2,14 persen

Likuiditas pun terjaga kuat dengan rasio AL/DPK dan LCR jauh di atas ambang batas aman.

Produk Buy Now Pay Later (BNPL) perbankan juga naik signifikan 20,15 persen yoy, menunjukkan konsumsi masyarakat masih bergairah.

Asuransi, dana pensiun, dan fintech ikut ekspansif

Industri asuransi membukukan total aset Rp1.214,82 triliun, tumbuh hampir 6 persen.

Dana pensiun bahkan melonjak 11,21 persen yoy menjadi Rp1.686,11 triliun.

Di sisi fintech lending (pinjaman daring), outstanding pembiayaan tumbuh 25,52 persen yoy menjadi Rp98,54 triliun, dengan tingkat risiko kredit tetap terkendali.

Sementara itu, transaksi aset kripto masih aktif dengan 20,7 juta konsumen, meski nilai transaksi bulanan sedikit terkoreksi mengikuti tren harga global.

Penegakan hukum makin tegas

OJK juga menekankan penguatan integritas industri:

Denda pelanggaran pasar modal Februari: Rp23,6 miliar

Pemblokiran ± 32 ribu rekening terkait judi online

Penghentian 951 pinjol ilegal

Blokir dana korban penipuan digital Rp566 miliar

Dana korban yang berhasil dikembalikan: Rp167 miliar

Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan kepercayaan publik sekaligus melindungi konsumen.

Fokus 2026: stabilitas dan reformasi

Ke depan, OJK menyiapkan sejumlah kebijakan:

Reformasi struktur pasar modal

Penguatan transparansi kepemilikan saham

Pengembangan inovasi teknologi keuangan (fintech & kripto)

Peningkatan literasi dan inklusi keuangan

OJK menegaskan, meski tantangan global masih membayangi, fondasi sektor jasa keuangan Indonesia dinilai cukup kuat untuk menopang pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2026.

“Stabilitas terjaga, integritas diperkuat, dan inklusi keuangan terus diperluas,” tegas OJK.

Lebih baru Lebih lama