Fakta-fakta Negosiasi Damai AS-Iran yang Berakhir Buntu

Foto-Dok/CNN Indonesia

SUARAMIELNIAL.ID
, JAKARTA
– Upaya perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran berakhir tanpa kesepakatan setelah negosiasi panjang selama 21 jam yang berlangsung sejak Sabtu (11/4/2026).

Pembicaraan yang menjadi pertemuan tatap muka pertama sejak Revolusi Iran 1979 ini gagal menghasilkan mufakat dan memperpanjang ketidakpastian terkait gencatan senjata yang sebelumnya telah berjalan selama dua pekan.

Berikut sejumlah fakta penting di balik mandeknya negosiasi tersebut:

1. Perbedaan tajam soal program nuklir  

Wakil Presiden AS JD Vance menyebut negosiasi menemui jalan buntu karena Iran menolak tuntutan penghentian total program nuklirnya.  

Washington menegaskan “garis merah” terkait potensi pengembangan senjata nuklir oleh Teheran dan menyebut telah memberikan penawaran terakhir.

2. Iran nilai tuntutan AS berlebihan  

Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menilai AS mengajukan tuntutan yang tidak realistis.  

Iran menegaskan memiliki kepentingan sah, termasuk terkait program nuklir untuk tujuan sipil, pencabutan sanksi, serta ganti rugi perang.

3. Selat Hormuz jadi titik panas  

Perselisihan juga terjadi terkait pengelolaan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas global.  

Iran ingin mengontrol penuh jalur tersebut, termasuk kemungkinan mengenakan biaya transit, sementara AS menuntut akses bebas dan aman tanpa biaya.

4. Ancaman dampak global  

Gangguan di Selat Hormuz telah memicu lonjakan harga energi dunia. Para analis menyebut kondisi ini sebagai guncangan ekonomi terburuk sejak krisis Embargo Minyak 1973 yang pernah memangkas pasokan minyak global secara signifikan.

5. Isu konflik kawasan ikut mengemuka  

Selain nuklir dan energi, isu konflik di Lebanon juga menjadi ganjalan. Iran menginginkan gencatan senjata mencakup seluruh wilayah konflik, termasuk Lebanon, yang masih mengalami serangan.  

Namun, Benjamin Netanyahu sebelumnya menegaskan Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan.

6. Pakistan dorong kedua pihak tetap menahan diri  

Sebagai mediator, Pakistan melalui Wakil Perdana Menteri Ishaq Dar mendesak kedua negara tetap menjaga komitmen gencatan senjata.  

Ia memperingatkan potensi konflik yang lebih luas jika kesepakatan tersebut benar-benar runtuh.

Meski negosiasi kali ini berakhir buntu, kedua pihak masih membuka peluang dialog lanjutan. Namun, ketegangan yang terus meningkat membuat prospek perdamaian dalam waktu dekat masih penuh ketidakpastian.

Sumber : CNN Indonesia

Lebih baru Lebih lama