Harga Minyak Dunia Turun Tipis, Isu Negosiasi AS-Iran Jadi Pemicu

Foto-Dok/CNN Indonesia

SUARAMILENIAL.ID
, JAKARTA
– Harga minyak mentah dunia kembali menunjukkan pelemahan pada perdagangan akhir pekan ini, Jumat (17/4). Penurunan ini dipicu oleh sinyal positif dari rencana perundingan antara Donald Trump dan Iran, serta meredanya ketegangan di Timur Tengah.

Mengutip laporan Reuters, harga minyak mentah jenis Brent crude oil turun sebesar US$1,34 atau sekitar 1,35 persen ke level US$98,05 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga melemah US$1,65 atau 1,74 persen menjadi US$93,40 per barel.

Pelemahan ini terjadi setelah Trump mengungkapkan kemungkinan pertemuan antara Amerika Serikat dan Iran dalam waktu dekat. Ia menyebut bahwa Iran telah menawarkan komitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir dalam jangka panjang, yang menjadi salah satu isu paling sensitif dalam hubungan kedua negara.

“Kita akan lihat apa yang terjadi. Tapi saya rasa kita sudah sangat dekat dengan kesepakatan,” ujar Trump kepada wartawan.

Selain itu, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh kabar gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Lebanon. Kondisi ini memberi harapan meredanya konflik di kawasan yang selama ini menjadi pusat ketegangan geopolitik global.

Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak tajam hingga 50 persen pada Maret lalu. Namun dalam beberapa hari terakhir, harga mulai terkoreksi dan bergerak di bawah level psikologis US$100 per barel.

Di sisi lain, faktor tekanan masih datang dari penutupan Selat Hormuz oleh Iran yang telah berlangsung selama tujuh pekan. Jalur vital ini menyumbang sekitar seperlima distribusi minyak dunia, sehingga gangguan di wilayah tersebut berdampak signifikan terhadap pasokan global.

Analis memperkirakan sekitar 13 juta barel minyak per hari terdampak akibat situasi ini. Meski demikian, pasar tampaknya lebih merespons peluang diplomasi ketimbang risiko konflik, sehingga harga minyak cenderung melemah.

Dengan kondisi ini, arah harga minyak ke depan masih sangat bergantung pada perkembangan negosiasi antara AS dan Iran serta stabilitas geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Sumber : CNN Indonesia

Lebih baru Lebih lama