Harga Solar AS Tembus US$5 per Galon, Naik 40 Persen Imbas Konflik Timur Tengah

Foto-Dok/CNN Indonesia

SUARAMILENIAL.ID
, JAKARTA
— Harga bahan bakar jenis solar di Amerika Serikat (AS) melonjak tajam hingga menembus US$5 per galon atau sekitar Rp85 ribu. Kenaikan ini terjadi sejak 17 Maret 2026, dipicu oleh terganggunya pasokan minyak global akibat konflik di Timur Tengah.

Lonjakan tersebut mencerminkan kenaikan sekitar 40 persen dibandingkan kondisi sebelum konflik berlangsung. Dampaknya tidak hanya dirasakan di sektor energi, tetapi juga mulai merembet ke berbagai lini ekonomi masyarakat.

Solar merupakan bahan bakar utama untuk sektor logistik di AS, terutama bagi truk dan kereta pengangkut barang. Kenaikan harga ini pun berpotensi mendorong inflasi, karena biaya distribusi barang ikut meningkat.

Kepala analisis minyak GasBuddy, Patrick De Haan, memperkirakan dampak kenaikan harga solar akan mulai terasa luas pada April, terutama melalui kenaikan harga barang di supermarket hingga biaya pengiriman belanja online.

“Ini benar-benar akan memicu inflasi tambahan dengan cepat,” ujarnya.

Senada, Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, menyebut masyarakat AS sebenarnya sudah mulai merasakan efek dari lonjakan energi, termasuk naiknya harga bensin dan tiket pesawat akibat mahalnya bahan bakar jet.

Namun, menurutnya, dampak penuh dari kenaikan harga solar masih belum sepenuhnya terasa dan diperkirakan akan menyebar ke seluruh sektor ekonomi dalam beberapa bulan ke depan.

Krisis ini tidak lepas dari terganggunya jalur distribusi minyak global, khususnya di Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut selama ini menjadi lintasan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, namun kini mengalami penurunan aktivitas signifikan akibat serangan Iran.

Kondisi tersebut memicu gangguan pasokan minyak dalam skala besar. Bahkan, Badan Energi Internasional (IEA) menyebut situasi ini sebagai salah satu gangguan pasokan terbesar dalam sejarah.

Sebagai respons, pemerintah AS mulai mengambil sejumlah langkah untuk meredam dampak krisis. Menteri Energi AS, Chris Wright, menyatakan pihaknya tengah menyiapkan strategi untuk meningkatkan pasokan solar ke pasar dalam waktu dekat.

Selain itu, Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) juga memberikan relaksasi aturan dengan menangguhkan sementara pembatasan penjualan bahan bakar campuran etanol 15 persen (E15). Kebijakan ini berlaku mulai 1 Mei dan dapat diperpanjang sesuai kondisi pasar.

AS juga telah menggelontorkan 172 juta barel minyak dari cadangan strategisnya, sebagai bagian dari upaya global bersama lebih dari 30 negara untuk menambah pasokan hingga 400 juta barel ke pasar.

Tak hanya itu, pemerintah juga melonggarkan aturan pengiriman domestik melalui penangguhan Undang-Undang Jones selama 60 hari. Kebijakan ini memungkinkan kapal asing mengangkut minyak dan gas ke AS, guna menekan biaya distribusi.

Meski berbagai langkah telah disiapkan, tekanan terhadap harga energi diperkirakan masih akan berlanjut. Kenaikan harga solar kini menjadi sinyal kuat bahwa dampak konflik geopolitik tidak hanya terbatas pada kawasan, tetapi juga mengguncang ekonomi global secara luas.

Sumber : CNN Indonesia

Lebih baru Lebih lama