Bestari PSI Sebut PDIP Tak Pernah Menang Pilpres Setelah Ditinggal Jokowi

Foto-Dok/CNN Indonesia

SUARAMILENIAL.ID
, JAKARTA
– Ketua DPP Bidang Politik Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Bestari Barus, menilai Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mengalami kekalahan dalam kontestasi politik setelah tidak lagi bersama Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.

Menurut Bestari, kekalahan yang dialami pasangan calon presiden dan wakil presiden yang diusung PDIP pada Pilpres 2024 menjadi salah satu indikator berkurangnya pengaruh elektoral partai setelah berpisah dengan Jokowi.

“Tadi dikatakan dipecat. Bayangkan, orang yang berhasil memenangkan kontestasi presiden dinyatakan dipecat. Padahal kita tahu sendiri bahwa Bu Megawati enggak pernah menang pemilu, kemudian Ganjar Pranowo juga tidak menang pilpres setelah ditinggal Pak Jokowi,” kata Bestari dalam wawancara, Jumat (29/5).

Bestari menilai keputusan PDIP memecat Jokowi setelah Pemilu dan Pilpres 2024 menjadi ironi mengingat peran mantan kader tersebut dalam memenangkan dua pemilihan presiden sebelumnya.

Selain itu, mantan politikus Partai NasDem tersebut berpendapat bahwa kekalahan PDIP pada Pilpres 2024 bukan semata-mata karena kemenangan Presiden Prabowo Subianto, melainkan juga karena faktor hubungan politik yang telah merenggang dengan Jokowi.

“Kalau kekalahan dari Pak Prabowo mungkin tidak terlalu menyakitkan. Yang membekas itu karena ada Pak Jokowi di situ, dan itu masih terasa sampai sekarang,” ujarnya.

Sementara itu, Juru Bicara PDIP, Guntur Romli, menegaskan partainya tidak mencampuri rencana Jokowi yang disebut akan kembali melakukan blusukan ke sejumlah daerah.

Menurut Guntur, Jokowi bukan lagi bagian dari PDIP setelah diberhentikan sebagai kader pasca-Pemilu 2024.

Guntur juga membantah anggapan bahwa Jokowi memberikan pengaruh besar terhadap perolehan suara PDIP selama menjabat sebagai presiden. Ia mengklaim kontribusi elektoral Jokowi terhadap partai relatif kecil.

“Data pada 2014 dan 2019 menunjukkan ketika Jokowi menjadi presiden, suara PDIP hanya naik sekitar 1 persen. Jadi tidak memberikan dampak signifikan terhadap elektoral partai,” kata Guntur.

Perbedaan pandangan antara PSI dan PDIP terkait pengaruh Jokowi terhadap kekuatan elektoral partai kembali mencerminkan dinamika politik yang berkembang setelah berakhirnya Pemilu 2024 dan perubahan konstelasi hubungan politik antara kedua pihak.

Sumber : CNN Indonesia

Lebih baru Lebih lama