Bisakah “Project Freedom” Amankan Kapal di Selat Hormuz? Ini Analisisnya

Foto-Dok/CNN Indonesia

SUARAMILENIAL.ID
, JAKARTA
– Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggagas inisiatif bertajuk “Project Freedom” untuk mengawal kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz.

Langkah ini muncul di tengah kebuntuan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran, serta meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Trump menyatakan bahwa AS akan memandu kapal-kapal keluar dari perairan yang dianggap berbahaya agar aktivitas perdagangan global dapat kembali berjalan.

“Inisiatif ini bertujuan memastikan kapal bisa melanjutkan bisnis mereka dengan aman,” tulis Trump melalui media sosialnya.

Situasi di Lapangan Masih Rawan

Pada hari pertama pelaksanaan Project Freedom, laporan mengenai serangan terhadap kapal perang AS sempat mencuat. Namun, Washington membantah kabar tersebut.

Trump menyebut hanya satu kapal kargo asal Korea Selatan yang terdampak, sementara kapal lain tidak mengalami kerusakan signifikan. Ia juga mengklaim pasukan AS menindak sejumlah kapal kecil militer Iran.

Ketegangan di Selat Hormuz sendiri meningkat sejak konflik regional yang melibatkan Iran beberapa waktu lalu. Jalur vital tersebut sempat terganggu, memicu lonjakan harga minyak dunia dan kekhawatiran krisis energi global.

Dinilai Berisiko dan Terbatas

Pengamat militer menilai Project Freedom bukan tanpa risiko. Mantan spesialis operasi khusus Korps Marinir AS, Jonathan Hackett, menyebut langkah ini mencerminkan perubahan fokus AS.

Menurut dia, tujuan awal konflik yang berkaitan dengan isu keamanan kini bergeser ke aspek ekonomi, khususnya kelancaran jalur perdagangan di Selat Hormuz.

Hackett juga menyoroti keterbatasan armada AS untuk mengawal seluruh kapal.

“Sebelum konflik, lebih dari 100 kapal melintasi selat setiap hari. Sementara kapal militer yang tersedia sangat terbatas,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengawalan militer justru dapat meningkatkan risiko, termasuk bagi perusahaan asuransi yang harus menanggung potensi serangan.

Ribuan Awak Kapal Terjebak

Data Organisasi Maritim Internasional (IMO) menunjukkan sekitar 2.000 kapal dengan 20.000 awak terjebak di kawasan Teluk dekat Selat Hormuz.

Sejak konflik berlangsung, sedikitnya 19 serangan terhadap kapal telah tercatat, menewaskan sejumlah pelaut serta melukai lainnya. Selain itu, banyak kapal dilaporkan mengalami kekurangan logistik seperti makanan, bahan bakar, dan air.

Bergantung pada Sikap Iran

Mantan perwira Angkatan Laut AS, Harlan Ullman, menilai keberhasilan Project Freedom sangat bergantung pada sikap Iran.

Jika Teheran mengizinkan jalur pelayaran dibuka, operasi ini bisa menjadi langkah positif menuju deeskalasi. Namun, jika penolakan terjadi—termasuk kemungkinan pemasangan ranjau—situasi justru bisa semakin berbahaya.

“Iran memiliki kemampuan drone dan kapal cepat yang dapat memperumit operasi,” ujarnya.

Mengingatkan pada Konflik Lama

Situasi ini mengingatkan pada konflik “Perang Tanker” pada 1980-an, ketika jalur pelayaran di Teluk juga menjadi sasaran serangan dalam perang Iran-Irak.

Saat itu, AS sempat menjalankan operasi pengawalan kapal tanker untuk menjaga stabilitas distribusi minyak global.

Kini, dengan dinamika geopolitik yang kembali memanas, Project Freedom dinilai menjadi langkah berani, tetapi juga penuh tantangan dalam menjaga keamanan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia.

Sumber : CNN Indonesia

Lebih baru Lebih lama