
Foto-Dok/CNN Indonesia
SUARAMILENIAL.ID, JAKARTA — Isu mengenai hujan deras di kawasan Timur Tengah yang disebut berkaitan dengan perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran ramai diperbincangkan dalam beberapa waktu terakhir. Namun, sejumlah pakar menilai klaim tersebut tidak memiliki dasar ilmiah.
Perdebatan itu mencuat setelah anggota parlemen Iran, Abdullah Al Khayqani, menyebut hujan yang kembali turun di kawasan seperti Iran dan Irak terjadi karena Amerika Serikat tidak lagi melakukan “pencurian awan” akibat fokus pada perang.
“Hujan kembali turun di Irak sejak beberapa waktu lalu karena AS sibuk perang,” ujar Al Khayqani, seperti dikutip dari BBC.
Pernyataan tersebut memicu spekulasi di media sosial, terutama di Iran dan Turki. Sejumlah pengguna internet mengaitkan hujan deras yang terjadi belakangan ini dengan konflik di Timur Tengah.
Ada pula yang mengeklaim kekeringan panjang di Iran berakhir hanya beberapa hari setelah Teheran melancarkan serangan terhadap pangkalan milik AS di kawasan Timur Tengah.
Meski demikian, para ahli meteorologi dan iklim menilai klaim tersebut tidak masuk akal secara ilmiah.
Juru bicara Otoritas Meteorologi Irak, Amir Al Jabiri, mengatakan curah hujan di Irak sebenarnya sudah diperkirakan sejak tahun lalu.
“Klaim itu tidak ilmiah dan tidak logis,” kata Al Jabiri.
Ia menjelaskan prakiraan hujan untuk Irak telah dibuat sejak September tahun lalu, jauh sebelum konflik regional memanas.
Pendapat serupa disampaikan Direktur Institut PBB untuk Air, Lingkungan, dan Kesehatan, Kawe Madani. Menurut dia, munculnya teori semacam itu dipengaruhi rendahnya pemahaman publik mengenai perubahan iklim dan siklus air.
“Alasan utamanya adalah ketidakpercayaan dan ketidaktahuan tentang siklus air dan sistem iklim,” ujar Madani.
Para ilmuwan juga menegaskan belum ada teknologi yang mampu mengendalikan jalur maupun intensitas sistem cuaca secara langsung.
Sebaliknya, mereka menilai peningkatan cuaca ekstrem di kawasan Timur Tengah lebih mungkin berkaitan dengan perubahan iklim global akibat penggunaan bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak bumi, dan gas.
Adapun modifikasi cuaca seperti penyemaian awan memang dikenal dalam dunia meteorologi. Metode tersebut dilakukan dengan menyemprotkan partikel garam ke awan menggunakan pesawat untuk membantu pembentukan hujan atau salju.
Namun, teknologi itu dinilai hanya dapat membantu proses kondensasi pada awan yang sudah terbentuk dan bukan untuk mengendalikan cuaca sepenuhnya.
Kepala Laboratorium Ilmu Lingkungan dan Geofisika di Khalifa University, Diana Francis, mengatakan penyemaian awan tidak bisa digunakan untuk mengatur sistem cuaca.
“Ini seperti mendorong awan yang sudah terbentuk, bukan mengendalikan cuaca,” kata Francis.
Sumber : CNN Indonesia