
Foto-Dok/CNN Indonesia
SUARAMILENIAL.ID, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan meninjau proposal perdamaian terbaru yang diajukan Iran, namun meragukan peluang kesepakatan tersebut dapat diterima.
Pernyataan itu disampaikan Trump di tengah meningkatnya kembali ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Bahkan, pihak militer Iran menilai kemungkinan konflik baru masih terbuka.
Media Iran melaporkan Teheran telah mengajukan proposal berisi 14 poin melalui Pakistan sebagai mediator. Proposal tersebut mencakup penghentian konflik di berbagai lini serta pengaturan baru terkait pengelolaan Selat Hormuz.
“Saya akan segera meninjau rencana yang baru saja dikirim Iran kepada kami, tetapi saya tidak bisa membayangkan itu akan dapat diterima,” ujar Trump melalui platform Truth Social.
Dalam pernyataan terpisah di West Palm Beach, Trump juga tidak menutup kemungkinan langkah militer kembali diambil apabila situasi memburuk.
Konflik antara AS dan Iran yang memanas sejak akhir Februari, dengan keterlibatan Israel, saat ini berada dalam jeda sejak 8 April. Namun, upaya negosiasi damai yang difasilitasi Pakistan belum membuahkan hasil.
Dari pihak Iran, pejabat militer senior Mohammad Jafar Asadi menilai peluang konflik kembali pecah cukup besar. Ia menyebut AS tidak menunjukkan komitmen terhadap berbagai kesepakatan sebelumnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan keputusan kini berada di tangan Washington.
“Bola sekarang ada di tangan Amerika Serikat untuk memilih jalur diplomasi atau melanjutkan pendekatan konfrontatif,” ujarnya.
Di tengah situasi tersebut, isu program nuklir Iran kembali mencuat. Laporan media AS menyebut utusan Trump, Steve Witkoff, mendorong agar isu tersebut kembali dibahas dalam perundingan.
Ketegangan ini turut berdampak pada ekonomi global. Iran yang menguasai jalur Selat Hormuz—yang dilalui sekitar 20 persen pasokan energi dunia—berhadapan dengan kebijakan blokade pelabuhan oleh AS. Kondisi ini mendorong lonjakan harga minyak global hingga sekitar 50 persen dibandingkan sebelum konflik.
Di dalam negeri Iran, tekanan ekonomi kian terasa dengan inflasi yang menembus 50 persen serta gangguan ekspor minyak.
Situasi keamanan kawasan juga belum stabil. Di Lebanon, militer Israel dilaporkan melancarkan serangan ke target Hezbollah di wilayah selatan, meski sebelumnya telah ada kesepakatan gencatan senjata terpisah.
Ketegangan yang terus berlanjut ini mencerminkan tingginya ketidakpastian dalam upaya penyelesaian konflik di kawasan Timur Tengah.
Sumber : CNN Indonesia