SUARAMILENIAL.ID, BANJARMASIN — Di tengah derasnya arus informasi digital dan dominasi algoritma media sosial, generasi muda dinilai perlu kembali membaca pemikiran tokoh-tokoh bangsa secara utuh. Salah satunya adalah Bung Karno, sosok yang tidak hanya dikenang sebagai proklamator, tetapi juga pemikir besar yang gagasannya masih relevan untuk menjawab tantangan zaman.
Gagasan tersebut mengemuka dalam diskusi bertajuk “Membaca Bung Karno di Era Algoritma” yang digelar Forum Ambin Demokrasi bekerja sama dengan Baca di Rumah Alam dan LK3 Banjarmasin di Rumah Alam Sungai Andai, Jumat (12/6/2026).
Tema itu dipilih untuk melihat sejauh mana generasi muda mengenal Bung Karno di tengah perubahan cara memperoleh informasi. Jika generasi sebelumnya mengenal tokoh melalui buku dan ruang-ruang diskusi, generasi saat ini lebih banyak mengakses pengetahuan melalui mesin pencari, kecerdasan buatan (AI), dan media sosial yang bekerja berdasarkan algoritma.
Moderator diskusi, Noorhalis Majid, mengingatkan bahwa memahami Bung Karno tidak bisa dilakukan secara hitam-putih. Sosok Presiden pertama Republik Indonesia itu perlu dilihat dalam konteks perjalanan hidup dan zamannya.
“Bung Karno harus dibaca secara adil. Ada fase ketika ia menjadi pejuang kemerdekaan, pemimpin negara, hingga saat dilengserkan. Dari setiap fase itu kita bisa mengambil pelajaran yang berbeda,” ujarnya.
Bagi generasi muda, nama Bung Karno memang tidak asing. Namun, kedekatan terhadap pemikiran dan gagasannya belum tentu sama. Hal itu diakui Maudya Pramitha, mahasiswa Universitas Islam Kalimantan (Uniska), yang menilai pengenalan terhadap Bung Karno di sekolah masih terbatas pada perannya sebagai proklamator.
Menurut dia, pemahaman yang lebih utuh baru diperoleh setelah membaca sejumlah karya tentang Bung Karno, seperti Penyambung Lidah Rakyat, Di Bawah Bendera Revolusi, dan Sarinah.
“Di sekolah kami mengenal Bung Karno sebagai proklamator. Namun siapa dia, bagaimana perjuangannya, dan apa gagasannya, tidak banyak dibahas,” katanya.
Meski demikian, Maudya menilai Bung Karno tetap menyisakan ruang diskusi kritis, termasuk terkait kehidupan pribadinya yang sering menjadi perdebatan publik.
Akademisi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat, Reja Pahlevi, melihat Bung Karno sebagai tokoh yang kaya gagasan. Menurutnya, berbagai konsep besar yang lahir dari Bung Karno menunjukkan kemampuan berpikir jauh melampaui zamannya.
Ia mencontohkan Pancasila yang lahir dari perenungan panjang Bung Karno terhadap realitas sosial dan budaya Indonesia. Begitu pula gagasan menyatukan kekuatan nasionalis, agama, dan komunis yang saat itu dianggap mustahil, tetapi berhasil diwujudkan dalam konteks politik Indonesia pada masanya.
“Terlepas dari berbagai kontroversi yang muncul kemudian, Bung Karno adalah seorang pemikir yang berani menawarkan gagasan besar,” ujar Reja.
Sementara itu, sejarawan FKIP ULM, Mansyur, mengulas hubungan Bung Karno dengan Kalimantan Selatan. Ia mencatat sedikitnya enam kali kunjungan Bung Karno ke daerah tersebut sejak awal kemerdekaan.
Menurut Mansyur, setiap kunjungan selalu disambut antusias masyarakat dan menjadi ruang penyebaran gagasan kebangsaan. Bung Karno bahkan pernah menempuh perjalanan menggunakan kapal motor menuju Pahandut, Palangkaraya, untuk bertemu masyarakat.
“Setiap pidato Bung Karno selalu menjadi bahan diskusi dan perbincangan para tokoh masyarakat pada masa itu,” katanya.
Di sisi lain, pegiat literasi Ikhsan Elhaque menyoroti tantangan generasi muda di era digital. Menurut dia, persoalan saat ini bukan kekurangan informasi, melainkan melimpahnya informasi yang tidak selalu disertai kemampuan memahami konteks dan kepentingan di baliknya.
Dalam kondisi seperti itu, kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting. Bung Karno, kata Ikhsan, dapat dijadikan contoh karena keberaniannya berpikir melampaui zamannya.
Ia menilai konsep Trisakti yang digagas Bung Karno—berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan—masih relevan untuk dibicarakan di tengah tantangan global saat ini.
“Kalau Bung Karno hidup di era sekarang, mungkin dia juga akan menjadi influencer. Tetapi bukan influencer yang sekadar mencari perhatian, melainkan influencer yang menawarkan gagasan besar untuk mengubah dunia,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan IBG Dharma Putra yang menilai kekuatan utama Bung Karno terletak pada kemampuan menghubungkan gagasan dengan massa. Bung Karno bukan hanya seorang orator, tetapi juga agitator yang mampu menggerakkan orang melalui pemikirannya.
Diskusi yang berlangsung hingga malam hari itu juga diwarnai berbagai pertanyaan dari peserta. Salah satunya mengenai relevansi semangat anti-kolonialisme Bung Karno dalam menghadapi bentuk-bentuk penjajahan baru di bidang ekonomi, politik, dan budaya.
Pertanyaan lain menyinggung kebebasan berpendapat yang pernah menjadi salah satu nilai yang diperjuangkan Bung Karno. Sejumlah peserta menilai isu tersebut tetap relevan ketika ruang kritik terhadap kekuasaan kerap menjadi perdebatan dalam kehidupan demokrasi saat ini.
Menutup diskusi, Ikhsan mengusulkan agar forum serupa terus dilanjutkan dengan tema-tema lain yang berkaitan dengan pemikiran Bung Karno. Salah satu yang dianggap penting adalah membedah kembali Indonesia Menggugat, pledoi Bung Karno yang terkenal, untuk melihat relevansinya terhadap kondisi Indonesia masa kini.
Di tengah dunia yang semakin dikendalikan algoritma, diskusi tersebut menunjukkan bahwa membaca tokoh besar seperti Bung Karno tidak cukup melalui potongan-potongan informasi di media sosial. Pemikiran yang lahir dari pergulatan panjang sejarah tetap memerlukan ruang dialog, pembacaan kritis, dan refleksi yang mendalam.
