
Foto-Dok/CNN Indonesia
SUARAMILENIAL.ID, JAKARTA – Harga minyak dunia turun tajam hampir 5 persen hingga menyentuh kisaran US$83 per barel pada perdagangan Senin (3/8/2026). Penurunan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memutuskan menunda rencana serangan militer lanjutan terhadap Iran.
Keputusan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi salah satu pusat produksi energi dunia. Berkurangnya ketegangan geopolitik membuat pelaku pasar melepas premi risiko yang sebelumnya mendorong harga minyak naik.
Sebelumnya, pasar minyak sempat bergerak menguat akibat meningkatnya kekhawatiran akan eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Ancaman gangguan distribusi minyak melalui jalur strategis di Timur Tengah sempat memicu lonjakan harga komoditas energi tersebut.
Namun, keputusan Trump untuk menunda aksi militer memberikan sinyal positif bagi pasar. Investor menilai peluang terjadinya gangguan pasokan dalam waktu dekat menjadi lebih kecil sehingga harga minyak kembali terkoreksi.
Penurunan harga minyak juga dipengaruhi oleh sikap pelaku pasar yang mulai mengurangi aksi lindung nilai (hedging) terhadap risiko geopolitik. Kondisi tersebut membuat tekanan jual meningkat dan mendorong harga minyak turun hingga mendekati level US$83 per barel.
Meski demikian, analis menilai pergerakan harga minyak masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran dalam beberapa waktu ke depan. Apabila ketegangan kembali meningkat, harga minyak berpotensi mengalami volatilitas yang cukup tinggi.
Pasar kini terus mencermati perkembangan diplomatik maupun kebijakan pemerintah AS terkait konflik di Timur Tengah, mengingat kawasan tersebut memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas pasokan minyak global.