Harga Minyak Turun ke US$93 Jelang Pengumuman Sanksi Baru AS terhadap Iran

Harga minyak mentah dunia turun lebih dari US$1 per barel pada perdagangan awal Senin (24/8/2026). 

SUARAMILENIAL.ID, JAKARTA — Harga minyak mentah dunia turun lebih dari US$1 per barel pada perdagangan awal Senin (24/8/2026). Penurunan terjadi ketika investor melakukan aksi ambil untung sambil menunggu pengumuman Amerika Serikat (AS) terkait sanksi baru terhadap Iran.

Mengacu pada data perdagangan yang dikutip Reuters, harga minyak Brent berjangka turun US$1,22 atau 1,29 persen menjadi US$93,17 per barel.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah US$1,20 atau 1,38 persen ke level US$85,86 per barel.

Koreksi tersebut terjadi setelah kedua kontrak minyak mencatat kenaikan selama dua pekan berturut-turut. Pada pekan sebelumnya, harga Brent dan WTI masing-masing menguat lebih dari 5 persen.

Pasar Antisipasi Sanksi AS

Pergerakan harga minyak pada awal pekan dipengaruhi oleh sikap investor yang menunggu kebijakan terbaru Washington terhadap Iran.

Sebelumnya, harga minyak mengalami penguatan di tengah kebuntuan pembicaraan damai antara AS dan Iran. Situasi tersebut turut membatasi pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu rute utama perdagangan minyak dunia.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan menggelar konferensi pers pada Senin pukul 14.00 waktu setempat atau 18.00 GMT. Sebelumnya, Bessent telah mengancam akan memberlakukan sanksi paling berat terhadap Iran.

Presiden AS Donald Trump juga mengancam akan menjatuhkan sanksi kepada negara-negara yang melakukan perdagangan dengan Iran.

Analis komoditas Commonwealth Bank of Australia, Vivek Dhar, mengatakan pasar masih melihat ketidakpastian mengenai seberapa efektif kebijakan AS dalam mengisolasi perekonomian Iran.

Menurut dia, jika kebijakan tersebut berhasil mencapai tujuan Washington, risiko respons Iran melalui peningkatan eskalasi konflik dapat menjadi perhatian baru bagi pasar energi.

Iran Serukan Diplomasi

Iran telah mengecam rencana AS untuk memberlakukan sanksi baru. Meski demikian, Presiden Iran Masoud Pezeshkian masih menyerukan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.

Analis IG Markets Tony Sycamore menilai terdapat perbedaan pandangan di kalangan pemimpin Iran mengenai langkah yang harus diambil dalam menghadapi tekanan dari AS.

Kelompok yang lebih pragmatis, kata Sycamore, cenderung menginginkan penurunan ketegangan. Sementara itu, kelompok garis keras diperkirakan tetap mendorong perlawanan terhadap tekanan AS.

Perkembangan hubungan AS dan Iran selanjutnya menjadi salah satu faktor penting yang akan diperhatikan pasar minyak. Kebijakan sanksi maupun potensi gangguan terhadap jalur perdagangan minyak dapat memengaruhi pasokan dan pergerakan harga minyak dunia.

Sumber : CNN Indonesia
Lebih baru Lebih lama