Kalsel Park Bidik Omzet Rp800 Juta pada 2026, Andalkan Wisata Alam dan Tenaga Kerja Lokal

Kalsel Park membidik pendapatan Rp700 juta-Rp800 juta pada 2026 seiring meningkatnya kunjungan wisatawan dan kegiatan kelompok ke kawasan wisata tersebut. 

SUARAMILENIAL.ID, BANJARBARU — Kalsel Park membidik pendapatan Rp700 juta-Rp800 juta pada 2026 seiring meningkatnya kunjungan wisatawan dan kegiatan kelompok ke kawasan wisata tersebut. Hingga enam bulan operasional, pendapatan Kalsel Park telah mencapai sekitar Rp500 juta-Rp600 juta.

General Manager Kalsel Park Leni Rahayu mengatakan capaian tersebut menjadi modal untuk mengejar target pendapatan hingga akhir tahun. Kunjungan pada masa libur panjang serta kegiatan instansi pemerintah yang berlangsung selama beberapa hari menjadi salah satu penopang pendapatan.

“Alhamdulillah, realisasi pendapatan kami sudah sekitar Rp500 juta sampai Rp600 juta. Perhitungannya untuk enam bulan operasional, dan kami optimistis target tahun ini bisa menembus Rp700 juta hingga Rp800 juta,” ujar Leni saat ditemui dalam acara Pamor Borneo, baru-baru ini.

Menurut Leni, kegiatan kelompok dan kunjungan saat musim liburan memberikan kontribusi cukup besar terhadap tingkat hunian dan pendapatan. Karena itu, manajemen tidak hanya mengandalkan kunjungan wisatawan perorangan, tetapi juga membangun jaringan dengan berbagai pihak untuk mendatangkan rombongan.

Di tengah upaya mengejar pertumbuhan bisnis, Kalsel Park juga menjadikan pemberdayaan masyarakat sekitar sebagai bagian dari pengembangan kawasan wisata.

Sekitar 80 persen tenaga kerja Kalsel Park berasal dari masyarakat sekitar. Namun, sebagian pekerja belum memiliki pengalaman di bidang hospitality sehingga perusahaan perlu memberikan pelatihan secara bertahap.

“Tantangan utamanya adalah mereka belum memiliki bekal di bidang hospitality, sementara bisnis kami bergerak di sektor pelayanan. Karena itu, kami harus membina mereka secara bertahap,” kata Leni.

Pelatihan dilakukan secara internal maupun dengan mendatangkan narasumber dari luar. Materinya mencakup grooming, etika pelayanan, serta penerapan budaya senyum, salam, dan sapa.

Leni mengatakan peningkatan kemampuan pekerja menjadi penting karena kualitas sumber daya manusia akan menentukan pengalaman wisatawan selama berada di kawasan tersebut.

Selain pelatihan teknis, manajemen menerapkan pendekatan kekeluargaan untuk membangun kekompakan tim. Cara itu dinilai dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih harmonis sekaligus memudahkan penerapan standar pelayanan.

“Kami ingin semua merasa seperti keluarga. Kalau ada kesalahan, saling mengingatkan dengan baik. Setelah tim solid, visi dan misi perusahaan lebih mudah diterapkan,” ujarnya.

Menambah Akomodasi

Dari sisi fasilitas, Kalsel Park saat ini memiliki lima unit glamping, tiga cabin, 10 mini cabin, serta area perkemahan. Fasilitas tersebut disiapkan untuk menjangkau wisatawan yang ingin menikmati suasana alam dengan pilihan akomodasi yang beragam.

Area perkemahan bahkan pernah digunakan untuk menampung sekitar 180 peserta dalam sebuah kegiatan. Pemenuhan kebutuhan tenda pada kegiatan tersebut turut melibatkan masyarakat sekitar sehingga aktivitas wisata memberikan peluang ekonomi tambahan bagi warga.

Manajemen berencana menambah unit glamping untuk mengantisipasi meningkatnya minat wisatawan terhadap konsep menginap di alam terbuka dengan fasilitas yang lebih nyaman.

Pengembangan pasar juga dilakukan melalui kerja sama dengan pelaku industri pariwisata. Salah satunya melalui nota kesepahaman dengan Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPERWI), termasuk pemberian harga khusus bagi anggota asosiasi.

Kalsel Park juga membuka peluang kerja sama dengan biro perjalanan dan agen pemasaran independen untuk membawa rombongan wisatawan.

“Kami terbuka bekerja sama dengan siapa saja. Agen perjalanan maupun agen lepas bisa membawa tamu ke Kalsel Park. Semakin banyak jaringan yang dibangun, semakin besar peluang mendatangkan wisatawan,” kata Leni.

Melalui jaringan tersebut, Kalsel Park menyusun paket wisata bersama sejumlah mitra dari berbagai daerah. Strategi itu ditujukan untuk memperluas pasar dan mendorong wisatawan dari luar Kalimantan Selatan memasukkan Kalsel Park dalam daftar tujuan wisata ketika berkunjung ke Banua.

Saat ini, wisatawan domestik masih mendominasi kunjungan, terutama dari Kalimantan Selatan. Namun, wisatawan dari Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur mulai menunjukkan peningkatan.

Adapun wisatawan mancanegara masih menjadi pasar yang dikembangkan. Menurut Leni, wisatawan asing memiliki ekspektasi lebih tinggi terhadap kualitas pelayanan dan fasilitas. Karena itu, peningkatan standar pelayanan menjadi bagian penting dalam strategi memperluas pasar.

Segmen pelancong mandiri atau backpacker juga dinilai memiliki potensi karena karakter wisatawan tersebut cenderung mencari pengalaman di destinasi alam.

Promosi hingga Malaysia

Upaya memperluas pasar wisatawan dilakukan Kalsel Park bersama Dinas Pariwisata Kalimantan Selatan melalui kegiatan table top di Malaysia. Forum tersebut mempertemukan pelaku usaha pariwisata Kalimantan Selatan dengan agen perjalanan dari luar negeri.

Promosi lintas negara tersebut diharapkan dapat memperkenalkan destinasi wisata di Kalimantan Selatan sekaligus membuka akses pasar baru bagi Kalsel Park.

Namun, pengembangan wisata alam tidak lepas dari tantangan. Salah satunya ialah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada musim kemarau.

Asap akibat karhutla berpotensi mengurangi kenyamanan wisatawan dan memengaruhi minat kunjungan. Karena itu, penanganan karhutla dinilai turut menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan industri pariwisata di Kalimantan Selatan.

“Kami berharap persoalan karhutla dapat ditangani bersama sehingga sektor pariwisata di Kalimantan Selatan dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Leni.

Editor : Muhammad Robby

Lebih baru Lebih lama