Ketika Sawah Kehilangan Pewaris

Faturaji (60) memanen padi miliknya di Desa Anjir Serapat Lama, Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan. Foto-Muhammad Robby/ Suara Milenial

Oleh: Muhammad Robby


Embun masih menggantung di ujung daun padi ketika jarum jam baru menunjukkan pukul enam pagi.


Cahaya matahari perlahan mengusap hamparan sawah di Kalimantan Selatan.


Di atas pematang yang basah, Faturaji (60) melangkah pelan, seolah setiap jengkal tanah telah menyimpan jejak hidupnya.


Selama hampir 45 tahun, lumpur sawah menjadi bagian dari kesehariannya.


Telapak kakinya hafal setiap lekuk pematang, sementara kedua tangannya tetap cekatan menggenggam ranggaman—alat panen tradisional berbahan kayu dengan sebilah silet di ujungnya. Gerak itu nyaris tak berubah sejak ia masih muda.


Di antara bulir padi yang mulai menguning, Faturaji memanen satu demi satu. Matahari terus meninggi. Musim berganti, usia bertambah, tetapi sawah tetap menjadi tempat yang selalu ia datangi.


Kedua tangan Faturaji sangat cekatan menggenggam ranggaman—alat panen tradisional berbahan kayu dengan sebilah silet di ujungnya. Foto-Muhammad Robby/ Suara Milenial 

Namun, belakangan, yang berubah bukan hanya cuaca. Beberapa musim terakhir, panen tak lagi seramah dulu.


Hama tungro membuat batang padi menguning sebelum waktunya. Curah hujan sulit ditebak. Biaya pupuk dan sarana produksi terus merangkak naik.


Bagi petani yang hanya bisa menanam sekali dalam setahun karena bergantung pada pasang surut sungai, setiap musim tanam menjadi pertaruhan yang tak ringan.


Namun, kegelisahan terbesar Faturaji justru bukan soal gagal panen. Tak satu pun dari empat anaknya ingin menjadi petani. Baginya, kehilangan penerus jauh lebih berat daripada kehilangan hasil panen.


“Sawah ini bukan hanya pekerjaan. Ini hidup saya,” katanya lirih.


Kalimat itu sederhana, tetapi memuat hubungan panjang antara manusia dan tanah yang telah menghidupinya selama puluhan tahun.


Di Balik Angka yang Membaik


Di atas kertas, pertanian Kalsel memperlihatkan tanda-tanda perbaikan. Namun di lapangan, kekeringan seakan menghantui para petani. Foto-Muhammad Robby/ Suara Milenial

Di atas kertas, pertanian Kalimantan Selatan memperlihatkan tanda-tanda perbaikan.


Badan Pusat Statistik mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Kalimantan Selatan pada Juli 2026 mencapai 133,59 atau meningkat 1,28 persen dibandingkan bulan sebelumnya.


Kenaikan tersebut ditopang meningkatnya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 0,96 persen dan turunnya Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,32 persen.


Secara makro, angka itu menunjukkan daya beli petani membaik. Namun, statistik sering kali berhenti sebagai angka ketika memasuki pematang sawah.


Produktivitas yang masih rendah, serangan organisme pengganggu tanaman, keterbatasan irigasi, hingga biaya produksi yang terus meningkat membuat kesejahteraan petani belum sepenuhnya mengikuti optimisme data.


Bagi Faturaji, angka-angka itu belum banyak mengubah kenyataan yang dihadapinya setiap musim tanam.


Potensi Besar yang Menunggu Dibenahi


Pengamat pertanian Kalimantan Selatan sekaligus mantan Direktur Eksekutif WALHI, Berry Nahdian Furqon. Foto-Muhammad Robby/ Suara Milenial

Pengamat pertanian Kalimantan Selatan, Berry Nahdian Furqon, menilai daerah ini memiliki modal besar sebagai salah satu penyangga pangan nasional.


Potensi lahan sawah mencapai sekitar 340.000 hektare. Pada 2025, luas panen padi tercatat 290.332 hektare, sedangkan luas tambah tanam hingga pertengahan 2026 telah mencapai 244.873 hektare. Namun, luas lahan tidak otomatis berbanding lurus dengan produksi.


Berry menyebut sedikitnya ada empat pekerjaan rumah yang mendesak diselesaikan, yakni pengendalian hama, pembangunan jaringan irigasi permanen, peningkatan indeks pertanaman agar petani dapat menanam lebih dari sekali setahun, serta regenerasi petani.


“Kalau empat persoalan itu mampu diatasi, peningkatan produksi akan mengikuti,” ujarnya.


Di antara seluruh tantangan tersebut, regenerasi menjadi persoalan yang paling sulit.


Sawah yang Kehilangan Anak-anaknya


Pematang sawah tampak sepi ketika menuju senja. Tak ada satu pun generasi muda yang melintas di sana. Foto-Muhammad Robby/ Suara Milenial 

Menurut Berry, persoalan terbesar pertanian Indonesia hari ini bukan lagi semata-mata soal produktivitas.


Yang lebih mengkhawatirkan adalah semakin sedikit anak muda yang bersedia turun ke sawah.


Ia menyebut krisis regenerasi petani sebagai persoalan yang bersifat sistemik.


“Kalau dibandingkan dengan Thailand, perbedaannya terlihat pada keberpihakan regulasi, modernisasi teknologi, dan jaminan kesejahteraan petani,” katanya.


Di Indonesia, profesi petani masih identik dengan kerja keras, pendapatan yang tidak menentu, serta rantai distribusi yang panjang. Nilai tambah hasil pertanian lebih banyak dinikmati pelaku di luar petani.


“Anak muda melihat orang tuanya bekerja keras, tetapi kehidupannya tidak banyak berubah. Akhirnya mereka memilih pekerjaan lain yang dianggap lebih menjanjikan.”


Fenomena itu perlahan mengubah wajah desa. Sawah tetap ada, tetapi orang-orang yang bersedia menggarapnya semakin sedikit.


Petani Harus Naik Kelas


Dosen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lambung Mangkurat, Achmad Rafieq. Foto-Muhammad Robby/ Suara Milenial

Dosen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lambung Mangkurat, Achmad Rafieq, melihat persoalan regenerasi tidak berawal dari minimnya lahan, melainkan dari menurunnya daya tarik profesi petani.


Bertani masih dipersepsikan sebagai pekerjaan berat dengan pendapatan rendah dan masa depan yang tidak pasti.


Selama kondisi tersebut tidak berubah, generasi muda akan terus mencari pekerjaan lain.


Menurut Rafieq, pilihan seseorang terhadap profesi sangat dipengaruhi oleh peluang memperoleh kehidupan yang lebih sejahtera.


Fenomena itu terlihat ketika aktivitas penambangan emas ilegal berkembang di sejumlah daerah. 


Potensi keuntungan yang besar dalam waktu singkat membuat sebagian masyarakat meninggalkan sektor pertanian.


“Masyarakat desa selalu tertarik pada sesuatu yang dapat menghasilkan uang secara cepat,” ujarnya.


Karena itu, meningkatkan kesejahteraan petani menjadi syarat utama membangun regenerasi.


Modernisasi teknologi, menurut Rafieq, dapat menjadi pintu masuk.


Penggunaan traktor, mesin tanam, drone untuk pengendalian organisme pengganggu tanaman, hingga combine harvester mampu meningkatkan efisiensi sekaligus mengubah cara pandang generasi muda terhadap pertanian.


Namun, teknologi bukan satu-satunya jawaban. Produktivitas yang meningkat harus diikuti kepastian harga yang memberikan keuntungan layak bagi petani.


“Kalau produktivitas meningkat dan harga hasil panen menguntungkan, kesejahteraan petani ikut naik. Di situlah pertanian akan kembali menjadi pilihan yang menarik bagi generasi muda,” katanya.


Membangun Asa dari Pematang Sawah


Di antara bulir padi yang mulai menguning, Faturaji memanen satu demi satu meskipun matahari terus meninggi. Foto-Muhammad Robby/ Suara Milenial

Berry menilai pembenahan sektor pertanian tidak cukup dilakukan melalui program jangka pendek.


Petani perlu dihubungkan dengan industri pengolahan dan pasar yang memberikan nilai tambah lebih besar.


Alih fungsi lahan harus dikendalikan, reforma agraria dijalankan secara konsisten, teknologi diperluas, koperasi diperkuat, dan hasil riset pertanian dipastikan benar-benar sampai ke lapangan.


Tanpa pembenahan yang menyeluruh, regenerasi akan terus menjadi persoalan yang berulang.


Harapan Itu Masih Ada


Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Selatan, Syamsir Rahman. Foto-Dok Suara Milenial

Kekhawatiran tentang masa depan pertanian dan regenerasi petani tidak berarti tanpa jawaban. 


Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan mulai menempatkan generasi muda dan modernisasi pertanian sebagai bagian penting dari upaya menjaga keberlanjutan sektor pangan.


Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Selatan, Syamsir Rahman, mengatakan salah satu upaya yang dilakukan adalah mendorong regenerasi petani melalui berbagai program yang menyasar anak muda di pedesaan.


Salah satunya melalui Program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS), program Kementerian Pertanian yang bekerja sama dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalsel serta sejumlah dinas pertanian kabupaten. 


Program yang didanai International Fund for Agricultural Development (IFAD) itu berlangsung pada 2020-2025.


“Kalsel menjadi salah satu provinsi yang dipercaya menjalankan program tersebut. Pelaksanaannya di daerah dipimpin SMK-PP Negeri Banjarbaru melalui Provincial Project Implementation Unit,” ungkap Syamsir.


Program YESS diarahkan untuk meningkatkan kapasitas pemuda pedesaan, terutama di wilayah intervensi seperti Kabupaten Banjar, Tanah Laut, dan Tanah Bumbu. 


Mereka didorong tidak hanya menjadi pekerja profesional di sektor pertanian, tetapi juga tumbuh sebagai wirausahawan agribisnis dari hulu hingga hilir.


Pelatihan, dukungan modal usaha bagi petani milenial, hingga forum koordinasi untuk membuka akses pasar menjadi bagian dari program tersebut.


Meski YESS secara resmi berakhir pada 2025, pemerintah daerah tidak serta-merta menghentikan upaya regenerasi. 


Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalsel menduplikasi sejumlah kegiatan melalui anggaran APBD, antara lain sekolah lapang, pelatihan petani milenial, serta magang dan studi tiru.


Bagi petani muda yang berprestasi, pemerintah daerah juga menyiapkan pelatihan persiapan untuk mengikuti program magang ke luar negeri, termasuk Taiwan dan Jepang pada 2027, dengan catatan dukungan anggaran tersedia.


Upaya itu menunjukkan bahwa regenerasi petani tidak semata-mata soal mengajak anak muda kembali ke sawah. 


“Mereka perlu melihat pertanian sebagai sektor yang memberi ruang untuk belajar, berusaha, menggunakan teknologi, sekaligus memperoleh penghasilan yang layak,” tegasnya.


Karena itu, pemerintah juga mendorong modernisasi pertanian sebagai pintu masuk untuk mengubah citra pekerjaan di sawah.


Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalsel bekerja sama dengan Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Kalsel untuk memperluas penerapan teknologi pertanian. 


Salah satu yang dikembangkan ialah konsep Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS).


Salah satu proyek percontohan berada di lahan pasang surut Rantau Badauh, Kabupaten Barito Kuala. 


Sistem tersebut memadukan budidaya padi dan jeruk siam Banjar melalui sistem surjan terpadu, pengelolaan air, serta pola tanam jajar legowo 4:1.


Modernisasi juga dilakukan melalui mekanisasi. 


Pemerintah menyalurkan alat dan mesin pertanian, seperti transplanter dan combine harvester, melalui Brigade Pangan dan sejumlah kelembagaan pertanian.


Bagi generasi muda, perubahan itu penting. Bertani tidak lagi harus sepenuhnya dipahami sebagai pekerjaan yang mengandalkan tenaga fisik. 


Teknologi membuat sebagian proses produksi dapat dilakukan secara lebih cepat, presisi, dan efisien.


Di tengah ancaman hama dan perubahan iklim, modernisasi juga dipadukan dengan strategi perlindungan tanaman dan mitigasi kekeringan.


Untuk mengendalikan tungro, misalnya, pemerintah melakukan Gerakan Pengendalian bersama kelompok tani. 


Pengendalian dilakukan dengan memanfaatkan agens hayati atau pestisida selektif serta mendorong pola tanam serempak untuk memutus siklus hidup wereng hijau sebagai vektor tungro.


Menghadapi musim kemarau yang diperkirakan mencapai puncaknya pada September-Oktober, pemerintah juga menyiapkan pompanisasi dan sumur bor, mempercepat luas tambah tanam, serta mengoptimalkan lahan rawa lebak dan pasang surut.


Sumber air untuk lahan yang mulai mengering dioptimalkan melalui pompa yang dikelola Brigade Alsintan, Brigade Pangan, dan Unit Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA). 


Kualitas air juga diperiksa, terutama di wilayah dengan karakteristik lahan yang memiliki tingkat keasaman tinggi.


Langkah-langkah tersebut diarahkan untuk menjaga produksi padi Kalsel tetap mencapai target 1,2 juta ton pada tahun ini.


Namun, di balik berbagai program itu, persoalan regenerasi tetap membutuhkan waktu. 


Menunggu Mereka yang Mau Menanam


Senja perlahan turun, Faturaji masih berdiri di tengah sawah yang mulai lengang. Foto-Muhammad Robby/ Suara Milenial

Senja perlahan turun. Burung-burung kembali ke sarang. Faturaji masih berdiri di tengah sawah yang mulai lengang.


Sesekali pandangannya mengarah ke jalan desa. Tak banyak anak muda yang melintas menuju pematang. Sebagian memilih bekerja di kota, sebagian lainnya mencari profesi yang dianggap lebih menjanjikan.


Ia tidak menyalahkan mereka.


Bagaimana mungkin seorang anak bercita-cita menjadi petani apabila yang setiap hari dilihatnya adalah orang tua yang bekerja sejak matahari terbit hingga tenggelam, tetapi tetap hidup dalam keterbatasan?


Padahal, di atas lumpur itulah masa depan pangan Indonesia sedang dipertaruhkan.


Apabila Kalimantan benar-benar ingin menjadi lumbung pangan nasional, yang perlu dibangun bukan hanya bendungan, jaringan irigasi, atau perluasan lahan sawah.


Yang jauh lebih mendasar ialah mengembalikan keyakinan bahwa bertani adalah profesi yang bermartabat, memberikan kehidupan yang layak, dan menjanjikan masa depan.


Sebab suatu hari nanti, ketika Faturaji tak lagi mampu menyusuri pematang sawah, negeri ini akan membutuhkan seseorang yang bersedia meneruskan langkahnya.


Dan pada akhirnya, ketahanan pangan Indonesia akan ditentukan oleh satu pertanyaan sederhana: masih adakah generasi yang mau menanam?

Lebih baru Lebih lama