Baayun Maulid Tetap Digelar di Banjarmasin, Diikuti 500 Peserta

Tradisi baayun maulid kembali digelar Pemerintah Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada bulan Rabiul Awal 1448 Hijriah atau 2026. 

SUARAMILENIAL.ID, BANJARMASIN — Tradisi baayun maulid kembali digelar Pemerintah Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada bulan Rabiul Awal 1448 Hijriah atau 2026. 

Sebanyak 500 peserta mengikuti tradisi masyarakat Banjar tersebut di Masjid Sultan Suriansyah, Kuin, Banjarmasin Utara, Minggu (6/9/2026).

Pelaksanaan baayun maulid tahun ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-500 Kota Banjarmasin. Peserta berasal dari berbagai kelompok usia dan didominasi anak-anak.

Dalam tradisi tersebut, anak ditempatkan di dalam ayunan dan diayun oleh orangtua atau anggota keluarga. Prosesi diiringi pembacaan Al Quran, shalawat, dan doa.

Wakil Wali Kota Banjarmasin Hj Ananda mengatakan baayun maulid memiliki makna khusus karena dilaksanakan menjelang peringatan 500 tahun Kota Banjarmasin.

”Alhamdulillah hari ini perayaan baayun maulid bertepatan di bulan kita akan memperingati 500 tahun Kota Banjarmasin. Harapannya ke depan Masjid Sultan Suriansyah ini menjadi ikon, bukan hanya ikon Banjarmasin, tetapi ikon Kalimantan Selatan, Kalimantan, bahkan Indonesia,” kata Ananda.

Menurut dia, Masjid Sultan Suriansyah memiliki posisi penting dalam sejarah awal Kota Banjarmasin dan perkembangan Islam di wilayah tersebut.

Ananda berharap tradisi baayun maulid dapat terus dilestarikan dan dikembangkan sehingga menjadi bagian dari kalender kegiatan daerah hingga tingkat nasional.

Warisan budaya Banjar

Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Kota Banjarmasin Ibnu Sabil mengatakan jumlah 500 peserta disesuaikan dengan momentum peringatan 500 tahun Kota Banjarmasin.

Peserta merupakan warga Banjarmasin yang ditentukan melalui koordinasi panitia dengan pihak kecamatan dan unsur terkait. Kegiatan tersebut tidak dipungut biaya.

Sabil mengatakan baayun maulid merupakan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun dan memiliki nilai budaya serta sejarah yang kuat bagi masyarakat Banjar.

”Ini suatu kebudayaan, kebudayaan dari turun-temurun sebenarnya. Baayun maulid adalah bagian daripada tradisi mengungkapkan rasa kebahagiaan akan munculnya Islam yang ada di Kalimantan,” ujarnya.

Menurut Sabil, nilai budaya dan sejarah tersebut menjadi dasar untuk mengembangkan baayun maulid sebagai kegiatan yang dapat dikenal lebih luas.

Pelestarian baayun maulid juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan tradisi masyarakat Banjar di tengah perkembangan Kota Banjarmasin menuju usia lima abad. (*)

Lebih baru Lebih lama