![]() |
| Anggota parlemen Malaysia dari partai oposisi, Kalam Salan, menyoroti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia saat berpidato dalam sidang parlemen, Rabu (21/10/2026). |
SUARAMILENIAL.ID, KUALA LUMPUR – Anggota parlemen Malaysia dari partai oposisi, Kalam Salan, menyoroti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia saat berpidato dalam sidang parlemen, Rabu (21/10/2026).
Menariknya, kritik yang ditujukan kepada Presiden RI Prabowo Subianto itu disampaikan menggunakan bahasa Jawa.
Kalam merupakan anggota parlemen yang mewakili daerah pemilihan Sabak Bernam dari Partai Bersatu (Bersatu).
Ia mengatakan penggunaan bahasa Jawa diharapkan membuat pesannya lebih mudah dipahami oleh para pemangku kepentingan di Indonesia.
“Di sana (Indonesia), kebanyakan orang Jawa tidak memahami bahasa Melayu. Oleh karena itu, izinkan saya, dengan persetujuan parlemen, menyampaikan pidato dalam bahasa Jawa,” ujar Kalam sebelum membacakan pesannya.
Dalam pidatonya, Kalam menyapa Prabowo dan mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kabut asap yang berulang kali melanda Malaysia akibat kebakaran hutan di Indonesia.
“Assalamualaikum, Pak Prabowo. Pripun kabare? Paringi waras, nggih. Kulo arep ngomong soal kabut asap sing saben tahun kok meneh songko Indonesia nganti Malaysia,” ucapnya.
Kalam mengatakan kabut asap telah mengganggu kehidupan masyarakat Malaysia. Dampaknya, menurut dia, antara lain kesulitan bernapas, batuk, sakit tenggorokan, hingga sesak napas. Sejumlah sekolah juga disebut terpaksa ditutup, sementara sektor pariwisata dan aktivitas pekerja perkebunan ikut terdampak.
Ia turut menyoroti nasib warga Indonesia yang bekerja di perkebunan Malaysia. Menurutnya, mereka juga mengalami kerugian karena kabut asap menghambat aktivitas bekerja dan mengurangi penghasilan.
“Sing susah ora mung wong Malaysia, Pak. Wong Indonesia sing nyambut gawe kerjaan neng kebon Malaysia ya melu susah akibat asap iki. Ora iso kerja, ora oleh duit. Urip arep terus piye? arep ngirim duit kanggo anak putu nang Indonesia,” kata Kalam.
Ia menegaskan, persoalan kabut asap lintas batas tidak semestinya dijadikan bahan candaan. Kalam menyinggung pernyataan pejabat Indonesia yang, menurutnya, meremehkan masalah tersebut dengan menyebut hutan Indonesia selama ini turut memasok oksigen bagi Malaysia.
“Mula, aja malah iki digawe guyonan, digawe lucuan, ngomong, nek alas Indonesia wis ngirim oksigen kanggo Malaysia. Lah, alas Malaysia kuwi opo? Ngasilno plastik? Ora iso ngasilke oksigen?” ujarnya.
Pernyataan itu mempertanyakan anggapan bahwa hutan Indonesia memasok oksigen bagi Malaysia, sementara hutan Malaysia sendiri juga menghasilkan oksigen.
Desak Penanganan Regional
Dikutip dari The New Straits Times, Kalam sebelumnya mendesak pemerintah Malaysia menempuh jalur diplomatik untuk mendorong Filipina, yang disebut sebagai ketua ASEAN tahun ini, mengambil langkah regional lebih kuat dalam menangani kabut asap lintas batas (transboundary haze).
Kalam mengakui pemerintah Malaysia telah menerapkan sejumlah langkah yang sebelumnya ia usulkan. Namun, ia menilai masyarakat masih merasakan dampak kabut asap yang meluas akibat karhutla di Indonesia.
Ia kembali menegaskan bahwa persoalan tersebut tidak seharusnya dianggap sebagai lelucon melalui pernyataan bahwa hutan Indonesia telah memasok oksigen bagi Malaysia.
“Apakah pohon-pohon di Malaysia terbuat dari plastik? Apakah mereka tidak bisa menghasilkan oksigen?” kata Kalam.
Kritik tersebut kembali menyoroti persoalan kabut asap lintas batas yang membutuhkan koordinasi antarnegara, terutama dalam upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan serta perlindungan kesehatan masyarakat di kawasan Asia Tenggara.
Sumber : CNNIndonesia.com
