Harga Minyak Dunia Melambung, Penerimaan Negara dari Migas Diproyeksi Tembus 109 Persen Target APBN

Kenaikan harga minyak mentah dunia diproyeksikan meningkatkan penerimaan negara dari sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) hingga mencapai 109 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

SUARAMILENIAL.ID, JAKARTA
 – Kenaikan harga minyak mentah dunia diproyeksikan meningkatkan penerimaan negara dari sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) hingga mencapai 109 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

Proyeksi tersebut disampaikan Deputi Keuangan dan Komersialisasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Desti Melanti, dalam konferensi pers Forum Eksplorasi dan Eksploitasi Hulu Migas (FOREK Hulu Migas) 2026 di Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026).


Desti mengatakan, kenaikan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) menjadi salah satu faktor utama yang mendorong peningkatan penerimaan negara dari sektor migas.


Saat ini, harga ICP berada di kisaran 105 dollar AS hingga 106 dollar AS per barel. Angka tersebut jauh di atas asumsi APBN 2026 yang ditetapkan sebesar 75 dollar AS per barel.


“Tahun 2026 ini insya Allah kami berhasil mencetak 109 persen lebih tinggi daripada target APBN yang telah ditetapkan. Tentunya ini tidak lepas dari adanya peningkatan harga komoditas dari minyak mentah itu sendiri,” ujar Desti.


Dia menjelaskan, proyeksi penerimaan sebesar 109 persen tersebut merupakan perkiraan hingga Desember 2026. Sementara itu, realisasi penerimaan negara dari sektor migas hingga saat ini telah mencapai sekitar 80 persen dari target.


Harga Minyak Diperkirakan Bertahan Tinggi


Desti memperkirakan harga minyak mentah Indonesia tidak akan turun tajam hingga mencapai 80 dollar AS per barel sampai akhir tahun.


Menurut dia, harga ICP berpotensi bertahan di kisaran 95 dollar AS hingga 98 dollar AS per barel. Bahkan, harga bisa mencapai 100 dollar AS per barel apabila ketidakpastian global masih berlanjut.


Kondisi tersebut dinilai menjadi peluang bagi pemerintah untuk meningkatkan penerimaan negara dari sektor hulu migas.


Meski demikian, peningkatan penerimaan tidak hanya bergantung pada harga minyak. SKK Migas juga berupaya mengoptimalkan produksi atau lifting minyak dan gas bumi.


Desti mengatakan, pihaknya memanfaatkan momentum kenaikan harga minyak dengan mendorong peningkatan volume produksi dari lapangan migas yang beroperasi.


“Jadi kita menggunakan momentum pada saat harga naik, bagaimana kita melakukan upaya-upaya untuk lifting bisa dimaksimalkan karena kalau lifting bisa dioptimalkan dengan harga saat ini kan penerimaan negara akan terjaga,” kata Desti.


Berpotensi Menambah Penerimaan Negara


Kenaikan harga minyak dunia juga memiliki konsekuensi terhadap anggaran pemerintah. Di satu sisi, harga minyak yang tinggi berpotensi meningkatkan penerimaan negara dari sektor hulu migas.


Namun, di sisi lain, kondisi tersebut dapat menambah beban APBN, terutama untuk pembiayaan subsidi dan kompensasi energi.


Desti menilai, tambahan penerimaan dari sektor hulu migas setidaknya dapat membantu menutupi sebagian beban anggaran yang muncul akibat kenaikan harga minyak.


Karena itu, optimalisasi produksi migas menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga penerimaan negara di tengah dinamika harga minyak dunia.


Sumber: CNN Indonesia 

Lebih baru Lebih lama