SUARAMILENIAL.ID, JAKARTA – Jaringan restoran cepat saji KFC menunjuk Coca-Cola sebagai pemasok minuman untuk gerainya di Amerika Serikat (AS). Keputusan tersebut mengakhiri kemitraan dengan PepsiCo yang telah berlangsung sekitar 40 tahun.
Berdasarkan laporan Reuters, Kamis (15/10/2026), produk Coca-Cola dijadwalkan mulai tersedia di gerai KFC di AS pada musim semi 2027. KFC memiliki 3.718 gerai di negara tersebut. Nilai kerja sama antara KFC dan Coca-Cola belum diungkapkan.
Peralihan mitra minuman itu pertama kali dilaporkan The Wall Street Journal, mengutip sumber yang mengetahui persoalan tersebut.
Kemitraan KFC dan PepsiCo berawal ketika PepsiCo mengakuisisi KFC sebagai bagian dari ekspansi bisnisnya ke sektor makanan dan camilan. Meski kemudian melepas KFC pada 1997, PepsiCo tetap memasok minuman untuk sejumlah jaringan restoran yang berada di bawah naungan Yum Brands, induk perusahaan KFC.
Perubahan mitra minuman kali ini hanya berlaku untuk gerai KFC di AS. Juru bicara PepsiCo menyatakan, perusahaan tersebut dan Yum Brands baru saja memperpanjang perjanjian kerja sama untuk Taco Bell serta gerai KFC di luar AS.
Kontrak untuk Taco Bell dilaporkan berlaku selama 10 tahun.
Selain memasok minuman bagi jaringan restoran di bawah Yum Brands, PepsiCo juga menjadi pemasok minuman untuk jaringan restoran sandwich Subway dan Jersey Mike's Subs. Perusahaan tersebut turut mengelola dispenser minuman soda di Pizza Hut, yang pada tahun ini keluar dari naungan Yum Brands.
Sementara itu, Coca-Cola telah lama menjadi mitra minuman bagi jaringan restoran cepat saji McDonald's dan Wendy's.
Tekanan terhadap bisnis PepsiCo
Hilangnya KFC AS sebagai mitra dinilai menjadi tantangan bagi PepsiCo, yang tengah berupaya memperbaiki penjualan minuman soda di negara tersebut. Pada saat yang sama, bisnis camilan perusahaan itu menghadapi tekanan akibat tingginya harga produk dan pergeseran preferensi konsumen ke makanan yang dianggap lebih sehat.
Kenaikan biaya juga menjadi perhatian CEO PepsiCo Ramon Laguarta. Pada awal Oktober 2026, Laguarta menyatakan pemulihan pertumbuhan dan margin perusahaan membutuhkan waktu lebih lama daripada yang direncanakan.
PepsiCo juga menghadapi tekanan dari investor aktivis Elliott Investment Management. Investor tersebut mengungkapkan kepemilikan sahamnya di PepsiCo pada tahun sebelumnya dan mendorong perusahaan menjual aset berkinerja buruk serta memperbaiki kinerja bisnisnya di Amerika Utara.
Kepala Strategi Pasar Freedom Capital Markets, Jay Woods, menilai peralihan KFC ke Coca-Cola menjadi sinyal negatif bagi PepsiCo. Freedom Capital Markets diketahui memiliki saham Coca-Cola.
Perubahan kemitraan ini menambah tantangan bagi PepsiCo dalam mempertahankan jaringan distribusi dan memperbaiki kinerja bisnis minuman serta makanan ringan di pasar AS.
