Page Nav

SHOW

Post Meta

SHOW

Pages

Classic Header

{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

PLN-picsay

Ekonom Beber Bahaya Jika Sri Mulyani Mundur dari Kabinet Jokowi

Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani. Foto-net


SUARAMILENIAL.ID, JAKARTA - Isu terkait bakal mundurnya Menteri Keuangan Sri Mulyani dari Kabinet Indonesia Maju yang dikomandoi Presiden Joko Widodo (Jokowi) sangat menguat belakangan ini.  

Meski begitu, ia tak pernah mengiyakan atau membantah isu tersebut. Ia menyatakan selama ini dirinya hanya bekerja saja.

Lantas isu mundurnya Sri Mulyani ini pun menjadi sorotan banyak pihak. Bahkan, ekonom Tanah Air menyebutkan mundurnya Sri Mulyani akan menimbulkan beberapa dampak besar.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita menyebut dampak pertama yang paling besar adalah potensi menurunnya kredibilitas keuangan pemerintah.

Kata dia, penurunan kredibilitas bisa membuat kepercayaan investor akan hilang dan bisa memicu terjadi capital outflow besar-besaran.

"Karena selama ini, kredibilitas keuangan dan pengelolaan fiskal nasional dipandang sangat baik berkat kehadiran Sri Mulyani di pos Kementerian Keuangan," dilansir CNN Indonesia.

Ia juga berpandangan perekonomian Indonesia yang selama ini memiliki bantalan yang kuat, adaptif dan perspektif di bawah kepemimpinan Sri Mulyani akan hilang. 

Hal ini disebabkan kredibilitas keuangan nasional yang turun.

Padahal, lanjut dia, kredibilitas keuangan nasional ini berkaitan dengan kemampuan fiskal nasional dalam merespon berbagai tekanan ekonomi yang selama ini dipandang baik oleh pelaku usaha nasional dan investor global.

Tak hanya itu, kepercayaan investor domestik maupun luar negeri akan Surat Berharga Nasional (SBN) yang dianggap aman dan menguntungkan bisa terancam mendadak pudar.

"Karena kredibilitas fiskal nasional juga terkait dengan model pengelolaan anggaran negara di bawah kepemimpinan Sri Mulyani yang dianggap sustainable dan berdisiplin tinggi, baik oleh publik maupun oleh investor," ucap Ronny.

Ronny mengungkapkan dampak kedua adalah potensi capital outflow yang makin besar bila Sri Mulyani mundur akan berdampak pada pelemahan nilai tukar rupiah. Hal ini juga bisa memicu peningkatan laju inflasi barang berbasis bahan baku impor.

Kemudian, kata dia, juga bisa memperburuk prospek investasi, terutama pada sektor finansial. Hal ini akan ditandai dengan turunnya kontribusi investasi terhadap pertumbuhan ekonomi.

"Pendeknya, jika Sri Mulyani mundur, akan sangat berpengaruh terhadap kepercayaan investor sekaligus kepercayaan diri investor untuk berinvestasi di Indonesia, terutama di bidang finansial seperti surat utang negara, surat utang korporasi, pun pasar modal, karena dianggap disiplin fiskal akan melemah ketika Sri Mulyani tidak lagi menjabat," tutur dia.

Sementara itu, Direktur Center of Economic and Law (CELIOS) Bhima Yudhistira menyebut mundurnya Sri Mulyani akan berdampak pada melonjaknya imbal hasil surat utang yang dipicu oleh turunnya rating utang pemerintah.

Pasalnya, ketidakhadiran Sri Mulyani dalam mengelola keuangan negara bisa meningkatkan risiko ketidakpastian arah kebijakan fiskal. Hal ini akan membuat investor di pasar keuangan skeptis dan meminta imbal hasil yang lebih tinggi untuk kompensasi risiko.

"Dampak lainnya adalah trust investor terhadap keberlanjutan mega proyek seperti IKN karena selama ini didukung APBN. Banyak investor teken LoI di IKN jadi ragu merealisasikan investasinya. Bukan lagi wait and see malah cenderung menarik diri," ucap dia.

Senada dengan Ronny, Bhima juga mengatakan mundurnya Sri Mulyani bakal memicu capital outflow di pasar saham yang menyebabkan pelemahan kurs rupiah yang sangat dalam.

"Lainnya, mundurnya Sri Mulyani akan berdampak pada berbagai kerja sama internasional seperti pendanaan JETP untuk transisi energi bisa jalan ditempat karena berkurangnya sosok yang kredibel dimata mitra negara maju," ujarnya.

Lebih lanjut, Bhima menyampaikan ada dua solusi yang bisa ditempuh untuk mengurangi dampak bila Sri Mulyani mundur. Pertama, Sri Mulyani mundur secara cepat sehingga mengakhiri spekulasi para pelaku pasar.

"Investor kan butuh certainty, sehingga isu tidak lagi liar tapi benar-benar ada keputusan dari Sri Mulyani untuk mundur," kata Bhima.

Kedua, Jokowi harus mencari pengganti Sri Mulyani yang punya kapasitas, terutama track record dalam bidang kebijakan fiskal hingga memiliki koneksi di tingkat internasional.

"Memang susah ya di injury time mencari pengganti Sri Mulyani, tapi beberapa sosok harus mulai di approach Jokowi untuk gantikan dia. Khawatir sosok pengganti levelnya jauh di bawah Sri Mulyani, pelaku pasar akan distrust," kata dia. (sb)

banner-halaman
BANNER-WEB-picsay