![]() |
| Darah tertumpah di bumi pertiwi, dan pada 26 Januari 1866 ia mengembuskan napas terakhir. Foto-Istimewa |
Oleh : Mansyur S.Pd, M.Hum
BANJARMASIN - Perlawanan terakhir Haji Boejasin terjadi ketika ia menyingkir ke wilayah Tanah Dusun, tepatnya di sekitar Sungai Lintuni, yang kini berada di Kalimantan Tengah.
Di kawasan inilah ia akhirnya berhadapan dengan Pembakal Bonang, tokoh lokal yang telah lama ditugaskan melacak keberadaannya. Dalam pertemuan tersebut, peluru menembus tubuh Haji Boejasin. Darah tertumpah di bumi pertiwi, dan pada 26 Januari 1866 ia mengembuskan napas terakhir.
Haji Buyasin gugur sebagai pahlawan sekaligus mujahid Perang Banjar. Ia wafat dalam usia yang masih sangat muda, sekitar 29 tahun. Jenazahnya—yang semasa hidup pernah menguasai dan memimpin Benteng Tabanio—kemudian diserahkan kepada pihak Belanda di Banjarmasin oleh Pangeran Soeria Winata, Bupati Martapura. Oleh masyarakat, ia dimakamkan di kawasan Masjid Jami Lama di tepi Sungai Martapura, Pasar Lama, Banjarmasin.
Versi lain menyebutkan bahwa Haji Boejasin tetap berupaya menembus jalur perjalanan menuju Martapura. Dalam pelariannya melalui sungai-sungai pedalaman, ia tiba di kawasan Sungai Lintuni. Pada 26 Januari 1866, Pembakal Bonang—yang berpihak kepada kolonial Belanda—berangkat bersama sejumlah pengikut untuk mengejar. Pertemuan pun tak terelakkan. Haji Boejasin sempat melakukan perlawanan, namun tertembak. Dalam kondisi tertangkap, ia masih berusaha mencabut klewang atau parang sebelum akhirnya ditembak mati. Jenazahnya ditemukan oleh Bupati Martapura, Pangeran Soeria Winata, pada 27 Januari 1866, lalu dibawa ke Banjarmasin dan dimakamkan di dekat sebuah masjid.
Pertanyaan mengenai apakah Haji Boejasin mengalami nasib serupa dengan Demang Lehman—yakni dipancung—masih menjadi bahan perdebatan. Dalam katalog Museum Vrolik tercatat sebuah koleksi tengkorak kepala orang Dayak dengan keterangan “Boejasin, kelahiran Paoelassan (Pulasan), Banjarmasin”, yang diperoleh dari kolektor bernama Mr. Swaving. Apakah tengkorak tersebut merupakan milik Haji Boejasin, hingga kini belum dapat dipastikan dan masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Sumber kolonial lain mencatat bahwa pemerintah Hindia Belanda di Batavia menerima telegraf dari Banjarmasin—melalui Surabaya—mengenai situasi di Karesidenan Kalimantan bagian Selatan dan Timur. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa Haji Buyasin, yang dianggap sebagai kepala pemberontakan di Tanah Laut, akhirnya berhasil dilumpuhkan setelah pengejaran panjang. Ia dikepung oleh patroli penduduk, sementara seluruh anggota keluarganya—istri, dua orang putra, dan saudara iparnya—ditawan. Dua orang pengikutnya juga ditangkap. Jenazah Haji Boejasin kemudian dibawa ke Banjarmasin.
Pasca-kematian Haji Boejasin, tekanan terhadap keluarga dan para pengikutnya semakin meningkat. Catatan kolonial menyebutkan bahwa mereka sebelumnya telah mengucapkan sumpah setia yang terus diulang dalam doa-doa malam. Namun, setelah Haji Boejasin gugur, seluruh sanak saudara dan kerabatnya ditangkap oleh pemerintah kolonial. Mereka mengalami penderitaan fisik dan mental yang berat. Anggota keluarga Haji Boejasin ditempatkan sementara di rumah Kepala Jaksa, sementara para pengikutnya ditahan hingga ada keputusan lebih lanjut mengenai status mereka.
Upaya penelusuran makam Haji Boejasin hingga kini masih menghadapi kendala. Bidang Permuseuman dan Kepurbakalaan (PSK) pernah melakukan survei di lokasi yang diyakini sebagai tempat pemakamannya, namun tidak menemukan makam Haji Buyasin secara pasti. Hilangnya jejak makam diduga kuat disebabkan oleh erosi Sungai Martapura yang menggerus bantaran sungai selama puluhan tahun. Banyak makam lama runtuh dan hanyut ke sungai.
Masjid Jami Banjarmasin sendiri telah lama dipindahkan ke lokasi yang lebih ke darat dan kini berada di kawasan Jalan Masjid, Kelurahan Masjid Jami atau Surgi Mufti, Kecamatan Banjarmasin Utara. Pada masa lalu, wilayah ini dikenal sebagai Kampung Masigit—sebuah kawasan tua yang menyimpan jejak penting sejarah perlawanan rakyat Banjar.
Editor : Muhammad Robby
