Analis Beber Biang Kerok Harga Emas Antam Sempat Anjlok Tajam, Masih Aman atau Sinyal Bahaya?

Foto-Dok/CNN Indonesia

SUARAMILENIAL.ID
, JAKARTA
– Harga emas Antam sempat bikin kaget pelaku pasar. Setelah mencetak rekor tertinggi di level Rp3,168 juta per gram, harga logam mulia itu tiba-tiba terkoreksi tajam Rp260 ribu menjadi Rp2,860 juta pada Sabtu (31/1).

Lonjakan sekaligus penurunan cepat ini memicu pertanyaan: normal atau tanda tren turun?

Sejumlah analis menilai, gejolak tersebut masih tergolong wajar dan lebih mengarah ke koreksi teknikal, bukan sinyal pembalikan arah.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P Sasmita, menjelaskan pergerakan harga emas belakangan memang sangat dinamis karena dipengaruhi situasi global.

Menurutnya, ketidakpastian ekonomi dunia, pergeseran aset bank sentral ke instrumen safe haven, serta turunnya daya tarik obligasi membuat emas sempat melesat tinggi.

“Di Indonesia juga sama, kenaikan sampai Rp3,168 juta didorong lonjakan permintaan aset aman di tengah ketidakpastian global, mulai dari arah suku bunga AS, tensi geopolitik, sampai volatilitas pasar keuangan,” ujarnya.

Profit Taking Jadi Pemicu Utama

Namun ketika harga melonjak terlalu cepat, investor jangka pendek biasanya langsung mengamankan cuan.

Fenomena ini dikenal sebagai profit taking, dan jadi salah satu biang kerok koreksi tajam harga emas.

Selain itu, penguatan dolar AS dan kenaikan tipis imbal hasil obligasi global membuat emas sementara kurang menarik. Pasalnya, emas tidak memberikan bunga atau imbal hasil seperti obligasi.

Meski begitu, Ronny menilai koreksi ini masih sehat.

“Ini lebih tepat dibaca sebagai koreksi teknikal, bukan pembalikan tren besar,” katanya.

Ia memperkirakan harga emas masih akan bergerak fluktuatif, tetapi tren jangka menengah tetap cenderung naik selama ketidakpastian global belum mereda.

Faktor Politik AS Ikut Pengaruhi

Sementara itu, Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira menyebut ada dua faktor utama yang menekan harga emas.

Pertama, aksi ambil untung investor setelah harga menyentuh level tertinggi. Kedua, sentimen dari Amerika Serikat, termasuk rencana Presiden Donald Trump mengganti Gubernur Bank Sentral AS yang memicu ekspektasi kebijakan moneter lebih ketat.

Dampaknya, dolar AS menguat dan investor beralih ke aset berbasis dolar.

“Akibatnya emas sebagai lindung nilai jadi kurang diminati sementara,” jelas Bhima.

Prospek Masih Cerah

Meski sempat turun, Bhima menilai prospek emas tetap positif. Beberapa pendorongnya antara lain meningkatnya ketidakpastian global, tren dedolarisasi bank sentral negara berkembang, hingga kebutuhan industri teknologi seperti AI, semikonduktor, dan data center yang memakai emas sebagai bahan baku.

Bahkan, dalam lima tahun terakhir emas mencatat imbal hasil lebih dari 200 persen.

Artinya, koreksi harga saat ini justru bisa dilihat sebagai momen beli, bukan panik jual.

Jadi, buat yang pantau emas, siap-siap saja. Pergerakannya mungkin naik-turun tajam, tapi statusnya sebagai aset aman masih belum tergoyahkan.

Lebih baru Lebih lama