Pemprov Kaltim Gratiskan UKT 21.903 Mahasiswa Baru, 2026 Bakal Diperluas hingga S3

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mulai merealisasikan program Gratispol dengan menggratiskan uang kuliah tunggal (UKT) semester pertama bagi 21.903 mahasiswa baru pada 2025. Foto-ANTARA

SUARAMILENIAL.ID, SAMARINDA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mulai merealisasikan program Gratispol dengan menggratiskan uang kuliah tunggal (UKT) semester pertama bagi 21.903 mahasiswa baru pada 2025.

Program ini menjadi bagian dari strategi Pemprov Kaltim untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia sekaligus mencetak “Generasi Emas Kaltim” yang berdaya saing global.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kaltim, Muhammad Faisal, mengatakan pendanaan program ini telah dialokasikan melalui APBD Perubahan 2025.

“Komitmen gratis biaya kuliah melalui program Gratispol sudah terealisasi. Sebanyak 21.903 mahasiswa baru kini bebas UKT untuk semester pertama,” ujar Faisal dikutip Republika, Senin (2/2).

Tak berhenti di situ, Pemprov Kaltim menyiapkan ekspansi besar pada 2026. Melalui APBD 2026, bantuan pendidikan akan diperluas dari hanya semester awal menjadi pembiayaan penuh selama masa studi.

Skemanya, mahasiswa S1 akan dibiayai hingga 8 semester, S2 selama 4 semester, dan S3 hingga 6 semester. 

Program ini juga akan mencakup mahasiswa Kaltim yang menempuh pendidikan di luar daerah melalui kerja sama resmi antar-institusi.

Total penerima manfaat diproyeksikan melonjak hingga 124 ribu mahasiswa, mencakup jenjang sarjana, magister, hingga doktoral.

Faisal menegaskan, mahasiswa wajib mendaftar secara mandiri melalui portal resmi pendidikan.gratispol.kaltimprov.go.id agar bisa diverifikasi.

Syarat utama penerima antara lain memiliki KTP Kaltim, berdomisili minimal tiga tahun, serta tidak sedang menerima beasiswa lain.

“Tanpa pendaftaran, panitia tidak bisa memverifikasi data mahasiswa yang bersangkutan,” tegasnya.

Program Gratispol diharapkan menjadi fondasi kebijakan jangka panjang Pemprov Kaltim dalam memperluas akses pendidikan tinggi yang inklusif dan berkelanjutan di Benua Etam.

Editor    : Muhammad Robby

Lebih baru Lebih lama