SUARAMILENIAL.ID, JAKARTA - Otoritas militer Thailand membongkar keberadaan kompleks penipuan berskala besar di kawasan O’Smach, wilayah perbatasan Thailand–Kamboja, Senin (2/2/2026). Kawasan tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu pusat operasi penipuan daring lintas negara.
Dalam pengungkapan itu, militer Thailand menemukan sejumlah bangunan yang dirancang menyerupai ruang kantor kepolisian dari berbagai negara. Salah satunya meniru kantor Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Replika tersebut digunakan untuk memperdaya korban agar percaya bahwa mereka berhadapan dengan aparat resmi.
Kawasan O’Smach berada di wilayah perbatasan yang sepanjang tahun lalu sempat menjadi lokasi konflik bersenjata antara Thailand dan Kamboja. Menurut laporan Channel News Asia (CNA), wilayah ini telah lama dicap oleh aparat penegak hukum internasional sebagai basis operasi kejahatan penipuan global.
“Para pejabat militer Thailand mengatakan kompleks tersebut menampung ribuan orang dari berbagai negara yang merupakan korban tindak pidana perdagangan orang dan dipaksa menjalankan aksi penipuan terhadap warga asing,” demikian laporan CNA, Selasa (3/2/2026).
Di dalam kompleks tersebut, pelaku kejahatan membangun replika ruang kantor kepolisian dari sedikitnya tujuh negara, antara lain Singapura, China, India, Indonesia, dan Vietnam. Ruangan-ruangan itu dilengkapi atribut institusional untuk meyakinkan target bahwa mereka tengah berhadapan dengan otoritas resmi.
Militer Thailand juga menemukan dokumen berisi daftar calon korban, rincian kontak, serta naskah dialog penipuan yang digunakan oleh para operator.
Direktur Intelijen Angkatan Darat Thailand Letnan Jenderal Teeranan Nandhakwang menyebut kelompok penipuan di O’Smach merupakan kartel kejahatan terorganisasi dengan sistem kerja yang matang.
“Mereka terorganisasi dengan sangat baik, memiliki infrastruktur, sistem kerja, serta taktik dan teknik penipuan yang terstruktur,” ujar Teeranan.
Menurut dia, penggunaan replika kantor kepolisian menjadi elemen penting dalam membangun ilusi kewenangan. Para operator berpura-pura menjadi pejabat atau aparat negara untuk menekan dan menakut-nakuti korban agar mengikuti instruksi mereka.
“Pengaturan ruang kantor tersebut dirancang untuk menciptakan rasa takut dan kepatuhan, sehingga korban percaya dan bersedia mentransfer uang,” kata Teeranan.
CNA melaporkan, jaringan penipuan di O’Smach mampu menjalankan operasi ke berbagai negara dengan nilai transaksi ilegal yang mencapai miliaran dollar AS.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Kepolisian Republik Indonesia terkait temuan replika kantor Polri di kawasan tersebut.
Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Himawan Bayu Aji belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi.
Sumber : Republika
