Bahaya Kenaikan Harga BBM Saat Harga Minyak Dunia Melonjak
SUARAMILENIAL.ID, JAKARTA – Pemerintah diingatkan untuk tidak gegabah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) di tengah lonjakan harga minyak dunia akibat memanasnya konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Ketegangan geopolitik di kawasan tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasar energi global. Salah satu risiko terbesar adalah potensi gangguan distribusi minyak di Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan minyak dunia. Jika jalur ini terganggu, pasokan energi global bisa terhambat dan harga minyak berpotensi melonjak lebih tinggi.
Data terbaru menunjukkan harga minyak Brent naik sebesar US$1,67 atau sekitar 2,05 persen menjadi US$83,07 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga meningkat US$1,94 atau 2,6 persen menjadi US$76,60 per barel.
Kenaikan ini sudah melampaui asumsi Indonesia Crude Price (ICP) yang ditetapkan pemerintah dalam APBN 2026 sebesar US$70 per barel.
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung sebelumnya menyebut setiap kenaikan US$1 pada ICP berpotensi menambah defisit anggaran negara hingga sekitar Rp6,8 triliun. Artinya, lonjakan harga minyak global bisa langsung memberi tekanan pada keuangan negara.
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai kondisi ini menunjukkan konflik di Timur Tengah dapat berdampak langsung terhadap APBN Indonesia.
Menurutnya, kenaikan harga minyak tidak boleh direspons dengan langkah ekstrem seperti menaikkan harga BBM secara tajam dan serentak di dalam negeri.
Ia memperingatkan bahwa kebijakan tersebut bisa memicu efek berantai terhadap perekonomian, mulai dari lonjakan inflasi hingga turunnya daya beli masyarakat. Apalagi, saat ini masyarakat juga masih menghadapi tekanan dari tingginya biaya logistik dan harga pangan.
Syafruddin juga mengingatkan agar pemerintah tidak memperluas subsidi energi secara menyeluruh. Menurutnya, subsidi yang terlalu luas dapat memicu pemborosan anggaran, memperbesar defisit, serta melemahkan kredibilitas fiskal di tengah meningkatnya risiko global.
Pandangan serupa disampaikan praktisi migas Hadi Ismoyo. Ia menilai menaikkan harga BBM bukanlah solusi yang tepat dalam kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.
Menurut Hadi, daya beli masyarakat saat ini masih relatif lemah sehingga kenaikan harga BBM berpotensi memicu gejolak sosial. Ia menyarankan pemerintah lebih baik mempertimbangkan penambahan
Sumber : CNN Indonesia
