Drone Murah Iran Diklaim Lumpuhkan Radar AS di Qatar, Apa Dampaknya?

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Teheran mengklaim berhasil melumpuhkan radar peringatan dini milik AS di Qatar. Foto-Istimewa

SUARAMILENIAL.ID, JAKARTA - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Teheran mengklaim berhasil melumpuhkan radar peringatan dini milik AS di Qatar. 

Radar tersebut berada di Al Udeid Air Base, pangkalan militer terbesar AS di Timur Tengah.

Menurut klaim Iran, radar yang menjadi sasaran adalah AN/FPS-132 Block 5, sistem Upgraded Early Warning Radar (UEWR) milik Angkatan Antariksa Amerika Serikat. 

Nilai satu unit radar ini diperkirakan mencapai sekitar 1,1 miliar dollar AS atau setara Rp 17 triliun.

Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari Pentagon terkait tingkat kerusakan sistem tersebut.

Klaim Serangan dan Target Strategis

Kantor berita The New York Times sebelumnya melaporkan kerusakan infrastruktur komunikasi dan radar di sejumlah pangkalan AS di kawasan Teluk dalam rentang akhir Februari hingga awal Maret 2026. 

Serangan terjadi setelah operasi militer besar AS dan Israel terhadap Iran.

Di Qatar, dua rudal balistik Iran dilaporkan menghantam area pangkalan Al Udeid. Otoritas Qatar menyebutkan terdapat korban luka akibat pecahan, tetapi tidak merinci kerusakan fasilitas militer.

Selain di Qatar, klaim serangan juga mengarah ke markas Armada Kelima AS di Manama, Bahrain. 

Beberapa laporan menyebut radome pelindung antena serta terminal komunikasi satelit menjadi sasaran.

Namun, detail teknis mengenai tingkat kerusakan maupun kemampuan operasional sistem pertahanan AS pascaserangan belum diungkap secara resmi.

Radar Strategis Bernilai Tinggi

AN/FPS-132 merupakan radar phased-array jarak jauh yang mampu mendeteksi peluncuran rudal balistik hingga ribuan kilometer. 

Sistem ini berfungsi sebagai bagian dari jaringan peringatan dini dan pertahanan rudal AS, termasuk integrasi dengan sistem Patriot dan THAAD di kawasan Teluk.

Apabila sistem ini terganggu, waktu respons terhadap ancaman rudal jarak jauh dapat berkurang. 

Meski demikian, para analis menilai jaringan pertahanan AS di kawasan bersifat berlapis dan tidak bergantung pada satu sensor tunggal.

Drone Murah dan Perang Asimetris

Iran disebut menggunakan drone tipe one-way attack seperti Shahed dalam sejumlah operasi militer. 

Drone ini relatif murah dibandingkan sistem pertahanan bernilai miliaran dollar AS yang menjadi target.

Pola serangan semacam ini kerap disebut sebagai bentuk asymmetric warfare, yakni strategi memanfaatkan teknologi berbiaya rendah untuk menyerang aset bernilai tinggi lawan.

Sejumlah lembaga analisis pertahanan dan media internasional melakukan verifikasi visual melalui citra satelit komersial. 

Namun, interpretasi atas citra tersebut masih menjadi perdebatan karena keterbatasan akses langsung ke lokasi militer.

Dampak Regional

Ketegangan di kawasan Teluk berpotensi memengaruhi stabilitas keamanan regional. Gangguan pada infrastruktur militer, jika terbukti signifikan, dapat meningkatkan risiko eskalasi lebih lanjut.

Selain itu, analis keamanan menilai gangguan sistem komunikasi militer berpotensi berdampak tidak langsung terhadap layanan sipil yang bergantung pada infrastruktur satelit, meskipun belum ada laporan resmi mengenai gangguan tersebut.

Hingga kini, situasi di kawasan masih berkembang. Otoritas AS, Qatar, maupun negara-negara Teluk lainnya belum merilis laporan rinci mengenai kondisi terkini fasilitas militer yang disebut menjadi sasaran.

Sumber : detikcom

Lebih baru Lebih lama