
Foto-Dok/CNN Indonesia
SUARAMILENIAL.ID, JAKARTA — Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Israel mengungkap rencana untuk menduduki wilayah selatan Lebanon hingga ke Sungai Litani. Wilayah tersebut disebut akan dijadikan “zona keamanan” di tengah konflik yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran yang telah berlangsung hampir satu bulan.
Wilayah selatan Lebanon sendiri selama ini dikenal sebagai basis kuat Hizbullah, kelompok milisi yang menjadi sekutu Iran. Keterlibatan Hizbullah dalam konflik disebut sebagai bentuk dukungan terhadap Teheran dalam menghadapi serangan balasan dari Israel.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, dalam pertemuan dengan pejabat militer pada Selasa (24/3) menyatakan bahwa pasukannya akan mengendalikan wilayah hingga Sungai Litani. Sungai tersebut terletak sekitar 30 kilometer di utara perbatasan Israel dan bermuara ke Laut Mediterania.
Langkah ini menjadi sinyal tegas pertama dari Israel terkait ambisi penguasaan wilayah yang luasnya diperkirakan mencapai hampir sepersepuluh dari total wilayah Lebanon.
Di sisi lain, Hizbullah menegaskan tidak akan tinggal diam. Anggota parlemen seniornya, Hassan Fadlallah, menyatakan kelompoknya siap melakukan perlawanan terhadap setiap bentuk pendudukan yang dianggap mengancam kedaulatan Lebanon.
“Kami tidak punya pilihan selain menghadapi agresi ini dan mempertahankan tanah kami,” ujarnya.
Israel sebelumnya juga memperingatkan pemerintah Lebanon agar segera melucuti Hizbullah. Jika tidak, negara tersebut disebut berisiko kehilangan wilayahnya akibat eskalasi konflik yang semakin meluas.
Secara historis, Israel memang memiliki catatan panjang konflik dengan Lebanon. Negara tersebut pernah menduduki wilayah selatan Lebanon hingga tahun 2000 sebelum akhirnya mundur.
Sejak pertengahan Maret, serangan Israel dilaporkan telah menghancurkan sejumlah infrastruktur penting di kawasan tersebut, termasuk lima jembatan di atas Sungai Litani serta berbagai permukiman di desa perbatasan. Tindakan ini diklaim sebagai bagian dari operasi militer untuk melemahkan Hizbullah.
Namun, berdasarkan hukum internasional, serangan terhadap infrastruktur sipil seperti jembatan dan rumah warga dapat dikategorikan sebagai pelanggaran serius.
Dampak kemanusiaan dari konflik ini juga semakin mengkhawatirkan. Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat lebih dari 1.000 orang tewas sepanjang Maret, termasuk anak-anak, perempuan, dan tenaga medis. Meski demikian, data tersebut tidak merinci jumlah korban sipil dan kombatan.
Selain korban jiwa, lebih dari satu juta warga dilaporkan mengungsi akibat serangan dan perintah evakuasi, sementara sebagian lainnya masih bertahan di wilayah selatan dalam kondisi yang tidak pasti.
Di tengah situasi tersebut, pemerintah Lebanon juga mengambil langkah diplomatik dengan mengusir duta besar Iran dan sejumlah warga negara Iran lainnya. Meski demikian, Beirut menegaskan bahwa kebijakan tersebut tidak berarti memutus hubungan diplomatik dengan Teheran.
Keputusan itu mendapat respons beragam. Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, menyambut baik langkah tersebut, sementara Hizbullah justru mengecamnya.
Dengan berbagai perkembangan ini, situasi di Timur Tengah diperkirakan masih akan terus bergejolak dalam waktu dekat.
Sumber : CNN Indonesia