![]() |
| Foto-Dok/CNN Indonesia |
SUARAMILENIAL.ID, JAKARTA – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka bagi kapal-kapal dari berbagai negara. Namun, jalur laut strategis tersebut tidak diperbolehkan dilintasi oleh kapal milik Amerika Serikat, Israel, serta sekutu mereka.
Pernyataan itu disampaikan Araghchi dalam wawancara dengan jurnalis Mesir Ayman Mohyeldin pada Sabtu (14/3). Ia menegaskan bahwa Iran tidak menutup total jalur pelayaran penting tersebut, melainkan hanya membatasi akses bagi pihak yang dianggap sebagai musuh.
“Sebenarnya Selat Hormuz terbuka,” kata Araghchi.
“Selat itu hanya ditutup untuk kapal tanker dan kapal milik musuh kita, yaitu mereka yang menyerang kita dan sekutunya. Yang lain bebas untuk lewat,” lanjutnya.
Selat Hormuz merupakan jalur perairan yang sangat vital bagi perdagangan energi global. Selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia. Gangguan di jalur tersebut berpotensi memicu lonjakan harga minyak internasional.
Araghchi kembali menegaskan bahwa pembatasan hanya berlaku untuk kapal dari Amerika Serikat dan Israel.
“Selat tersebut tidak ditutup, tetapi hanya ditutup untuk kapal dan tanker Amerika serta Israel, bukan untuk yang lain,” ujarnya.
Sebelumnya, sejumlah laporan menyebut Iran mempertimbangkan membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz secara terbatas. Salah satu syarat yang disebut-sebut adalah transaksi minyak yang melewati jalur tersebut dilakukan menggunakan mata uang yuan China.
Usulan tersebut dilaporkan menjadi bagian dari rencana yang tengah disusun Teheran untuk mengatur lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz setelah meningkatnya konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat.
Selama ini, mayoritas transaksi minyak dunia dilakukan menggunakan dolar AS. Namun, beberapa negara mulai menggunakan mata uang lain seperti rubel Rusia atau yuan China, terutama untuk menghindari dampak sanksi Barat.
Ketegangan di kawasan juga berdampak pada pergerakan harga minyak global. Pada Senin (9/3), harga minyak acuan Brent sempat melonjak hingga US$119,50 per barel, level tertinggi sejak pertengahan 2022. Harga kemudian sempat turun setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan konflik dengan Iran berpotensi segera berakhir.
Namun pada perdagangan terbaru, harga kontrak minyak mentah Brent kembali naik US$8,54 atau sekitar 9,28 persen menjadi US$100,52 per barel. Kenaikan ini terjadi setelah Iran meningkatkan serangan terhadap fasilitas minyak dan transportasi di kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, pada Minggu (15/3), Presiden AS Donald Trump membuka kemungkinan serangan lanjutan terhadap Pulau Kharg, yang merupakan pusat ekspor minyak Iran. Dalam wawancara dengan NBC News, Trump mengklaim bahwa sebagian besar fasilitas di pulau tersebut telah dihancurkan oleh serangan AS.
Ia bahkan menyatakan bahwa serangan tambahan terhadap Pulau Kharg bisa saja kembali dilakukan.
“Kami mungkin akan menyerangnya beberapa kali lagi hanya untuk bersenang-senang,” kata Trump.
Sumber : CNN Indonesia
