Serangan AS–Israel ke Iran Berlanjut, Pakar Nilai Trump Mulai Kehilangan Arah

Foto-Dok/CNN Indonesia

SUARAMILENIAL.ID
, JAKARTA
– Operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran masih terus berlanjut. Namun di tengah eskalasi tersebut, sejumlah pengamat menilai langkah politik Presiden Donald Trump justru mencerminkan sikap putus asa.

Penilaian itu disampaikan Trita Parsi, Wakil Presiden Eksekutif Quincy Institute for Responsible Statecraft. Dalam wawancaranya dengan Al Jazeera, Parsi menyebut Trump terlihat kesulitan mencari pembenaran politik atas keputusan membawa AS lebih jauh ke konflik terbuka dengan Teheran.

Menurutnya, pidato terbaru Trump terkesan penuh dalih demi mempertahankan dukungan basis politik domestik. Ia memperingatkan, bila perang berlarut hingga satu atau dua pekan ke depan, dampaknya bisa menjadi bencana politik bagi Gedung Putih.

“Jika konflik ini berlanjut, tekanan politik akan sangat besar. Ia terlihat menggunakan berbagai alasan secara mendadak untuk membenarkan perang,” ujar Parsi.

Sebelumnya, Trump kepada Daily Mail menyebut konflik dengan Iran berpotensi berlangsung hingga empat pekan. Pernyataan itu dinilai sebagai sinyal bahwa Washington sedang bersiap menghadapi perang yang lebih panjang dari perkiraan awal.

Parsi juga menilai Trump sempat mencoba membuka jalur diplomasi dengan menawarkan gencatan senjata kepada Iran. Namun tawaran tersebut ditolak. Teheran diyakini melihat langkah itu sebagai tanda kelemahan.

Di lapangan, situasi terus memburuk. Serangan gabungan AS-Israel dilaporkan menghantam berbagai target strategis di sejumlah wilayah Iran. Pemerintah Iran kemudian membalas lewat operasi militer yang menyasar kepentingan kedua negara tersebut.

Balasan itu turut melibatkan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) yang mengklaim melanjutkan operasi terhadap aset militer musuh.

Eskalasi saling serang ini membuat ketegangan kawasan Timur Tengah semakin tak menentu. Jika tidak ada jalur diplomasi yang ditempuh, konflik berisiko melebar dan menyeret lebih banyak aktor regional maupun global.

Bagi Trump sendiri, perang yang berlarut bisa menjadi pertaruhan besar—bukan hanya secara militer, tetapi juga secara politik di dalam negeri.

Sumber : CNN Indonesia

Lebih baru Lebih lama