![]() |
| Foto-Dok/CNN Indonesia |
SUARAMILENIAL.ID, JAKARTA —Harga minyak mentah dunia kembali melonjak setelah serangan menghantam fasilitas energi milik Arab Saudi. Kenaikan ini terjadi pada perdagangan awal Jumat (10/4) dan langsung memicu kekhawatiran baru di pasar global.
Mengutip laporan CNN Indonesia, serangan tersebut berdampak signifikan terhadap kapasitas produksi minyak. Kantor berita Saudi menyebut produksi minyak negara itu berkurang sekitar 600 ribu barel per hari. Tak hanya itu, penyaluran melalui jalur strategis Pipa Timur-Barat juga ikut terganggu hingga 700 ribu barel per hari.
Dampaknya langsung terasa di pasar. Harga minyak mentah berjangka Brent naik 0,87 persen menjadi US$96,75 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga menguat 1,06 persen ke level US$98,91 per barel.
Analis pasar dari IG Market, Tony Sycamore, mengungkapkan bahwa sebelumnya pasar sempat tenang setelah adanya rencana gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, situasi kembali memanas usai serangan terhadap fasilitas energi tersebut.
Kini perhatian pelaku pasar tertuju pada Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital distribusi minyak dunia. Aktivitas kapal tanker di kawasan ini terus dipantau untuk melihat potensi gangguan lanjutan, terutama menjelang rencana pembicaraan damai antara AS dan Iran yang akan berlangsung di Pakistan.
Dalam laporan analis JPMorgan, serangan ini dinilai mengubah persepsi pasar—dari sekadar gangguan sementara menjadi krisis pasokan yang nyata. Sejak konflik antara AS, Israel, dan Iran memanas, sekitar 50 infrastruktur energi di kawasan Teluk Persia dilaporkan rusak akibat serangan drone dan rudal.
Data yang sama juga menunjukkan sekitar 2,4 juta barel per hari kapasitas penyulingan minyak saat ini tidak beroperasi, memperparah tekanan terhadap pasokan global.
Upaya diplomasi pun terus diupayakan. Pakistan disebut akan mencoba mendorong tercapainya kesepakatan damai yang lebih permanen antara AS dan Iran. Namun, pengaruh negara tersebut dinilai belum cukup kuat untuk membuka kembali akses penuh di Selat Hormuz.
Di sisi lain, Iran dikabarkan ingin memberlakukan biaya bagi kapal yang melintasi selat tersebut sebagai bagian dari kesepakatan damai. Rencana ini mendapat penolakan dari negara-negara Barat dan organisasi pelayaran internasional.
Presiden Stratas Advisors, John Paisie, memperingatkan bahwa harga minyak bisa melonjak drastis jika situasi tidak segera membaik. Ia memperkirakan harga Brent berpotensi menembus US$190 per barel apabila Selat Hormuz tetap ditutup.
“Jika Iran mengizinkan kapal melintas, harga mungkin lebih moderat, tetapi tetap jauh di atas level sebelum konflik,” ujarnya.
Kondisi ini menegaskan bahwa dinamika geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang memengaruhi stabilitas harga energi global. Pasar pun kini bergerak dalam ketidakpastian tinggi, menunggu arah perkembangan konflik dan hasil negosiasi yang akan datang.
Sumber : CNN Indonesia
