SUARAMILENIAL.ID, JAKARTA — Harga plastik di sejumlah wilayah Indonesia belakangan ini mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Kondisi ini dirasakan langsung oleh para pelaku usaha kecil hingga pedagang kaki lima yang bergantung pada bahan plastik untuk operasional sehari-hari.
Pantauan CNN Indonesia di kawasan Lenteng Agung menunjukkan lonjakan harga pada berbagai jenis plastik, mulai dari kantong hingga sedotan. Kenaikan ini dinilai memberatkan, terutama bagi pelaku usaha mikro.
Mustaroh, seorang penjual es kelapa, mengaku hampir semua jenis plastik yang ia gunakan mengalami kenaikan harga. Plastik kantong yang sebelumnya dibanderol Rp15 ribu kini naik menjadi Rp23 ribu. Sementara itu, harga sedotan meningkat dari Rp8 ribu menjadi Rp10 ribu. Bahkan, plastik kemasan bermerek tomat melonjak tajam dari Rp36 ribu menjadi Rp60 ribu per pak.
Lalu, apa sebenarnya yang memicu kenaikan harga ini?
Tekanan pada bahan baku menjadi faktor utama. Nafta—cairan hidrokarbon hasil olahan minyak mentah yang menjadi bahan dasar plastik—mengalami gangguan pasokan. Hal ini dipicu oleh konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, yang berdampak pada penutupan Selat Hormuz.
Selat tersebut merupakan jalur vital distribusi minyak dunia. Ketika aksesnya terganggu, rantai pasok energi global ikut terdampak, termasuk produksi nafta.
Menurut Chandra Asri Petrochemical, nafta merupakan komponen penting dalam industri petrokimia, termasuk produksi plastik dan biji plastik. Ketergantungan terhadap bahan ini membuat industri sangat sensitif terhadap fluktuasi pasokan global.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan bahwa sekitar 60 persen kebutuhan nafta Indonesia masih bergantung pada impor dari Timur Tengah. Ketika terjadi gangguan di kawasan tersebut, dampaknya langsung terasa di dalam negeri.
“Kita terdampak dari bahan baku yang harus kita impor dari Timur Tengah,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah mulai mencari alternatif pasokan dari negara lain seperti Afrika, India, dan Amerika Serikat. Namun, proses peralihan ini tidak bisa dilakukan secara instan karena membutuhkan penyesuaian rantai distribusi dan logistik.
Senada, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan pihaknya bersama pelaku industri tengah mengupayakan diversifikasi sumber bahan baku. Selain itu, pemerintah juga mendorong penggunaan LPG sebagai bahan penyangga serta pemanfaatan plastik daur ulang berkualitas tinggi.
Meski harga mengalami kenaikan, pemerintah memastikan ketersediaan plastik di pasar masih aman. Data Indeks Kepercayaan Industri (IKI) menunjukkan bahwa sektor industri kemasan pada Maret 2026 masih berada dalam fase ekspansi tinggi. Artinya, aktivitas produksi tetap berjalan dan stok dinilai mencukupi.
Dengan kondisi ini, masyarakat diimbau untuk tidak panik. Namun, dinamika global tetap menjadi faktor penting yang perlu diwaspadai karena berpotensi memengaruhi harga kebutuhan sehari-hari, termasuk plastik.
Sumber : CNN Indinesia
