Iran Tantang Trump soal Hormuz: Tak Akan Dibuka di Bawah ‘Sandiwara’ AS

Foto-Dok/CNN Indonesia

SUARAMILENIAL.ID
, JAKARTA
– Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan bahwa Selat Hormuz saat ini sepenuhnya berada di bawah kendali Teheran dan tidak akan dibuka kembali di bawah tekanan Amerika Serikat.

Dalam pernyataan resminya, IRGC secara tegas membantah klaim Presiden AS Donald Trump terkait situasi di jalur pelayaran strategis tersebut. Mereka menilai pernyataan Washington sebagai “sandiwara” yang tidak mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan.

Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur perdagangan minyak paling vital di dunia. Namun sejak konflik pecah pada 28 Februari lalu, Iran disebut telah menutup akses jalur tersebut. Dampaknya, ribuan kapal dagang tertahan karena tidak dapat melintas atau memilih menghindari risiko serangan.

IRGC juga mengungkapkan bahwa pihaknya telah melancarkan puluhan serangan terhadap kapal komersial yang dianggap memiliki keterkaitan dengan Amerika Serikat dan Israel. Aksi tersebut turut memicu lonjakan harga minyak global hingga mencapai level tertinggi sejak 2022.

Dalam pernyataan yang sama, Iran menuduh AS dan Israel telah menyesatkan publik dengan mengklaim bahwa intensitas serangan Teheran menurun. IRGC justru menegaskan bahwa operasi militer mereka masih terus berlangsung secara aktif.

Bahkan, Iran mengklaim telah meluncurkan gelombang ke-89 dalam Operasi True Promise 4, dengan menggunakan kombinasi rudal balistik, rudal jelajah, serta drone tempur untuk menyerang target-target militer utama milik AS dan Israel.

Selain itu, IRGC menyebut berhasil menghancurkan sistem pertahanan udara milik AS yang ditempatkan di wilayah perairan dan pulau-pulau Uni Emirat Arab (UEA). Mereka juga mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal tanker minyak Aqua 1 yang disebut memiliki keterkaitan dengan Israel.

Tak hanya itu, Iran juga mengklaim telah menyerang markas rahasia militer AS di luar perimeter Armada Kelima di Bahrain menggunakan drone dan rudal balistik. Menurut laporan yang dikutip IRGC, sejumlah perwira angkatan laut AS dilaporkan mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.

Serangan juga disebut menyasar fasilitas militer lainnya, termasuk pusat persiapan helikopter Chinook dan hanggar senjata di pangkalan Al Udeiri. IRGC bahkan mengklaim telah melancarkan serangan drone terhadap kelompok kapal induk USS Abraham Lincoln di Samudra Hindia, yang disebut mundur dari posisi awalnya.

Lebih lanjut, Iran menyatakan bahwa serangan terhadap basis militer AS di UEA mengakibatkan puluhan korban jiwa, dengan total 37 orang dilaporkan tewas serta banyak lainnya mengalami luka-luka.

Perang antara Iran melawan AS dan Israel kini telah memasuki pekan kelima sejak pecah pada akhir Februari. Konflik ini dilaporkan telah menewaskan ribuan orang di Iran serta memicu eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Awalnya, Iran menargetkan fasilitas militer milik AS dan Israel. Namun setelah infrastruktur energinya diserang, Teheran memperluas serangan dengan menyasar fasilitas energi Israel serta sejumlah negara yang dianggap mendukung operasi militer terhadap Iran.

Situasi ini pun menimbulkan kekhawatiran global, terutama terkait stabilitas kawasan dan dampaknya terhadap ekonomi dunia, termasuk lonjakan harga energi dan terganggunya jalur distribusi internasional.

Sumber : CNN Indonesia

Lebih baru Lebih lama