Muhammad Rian Zulfikar, Aset Masa Depan Kalimantan Selatan


Oleh : Muhammad Robby 


Nama lengkapnya Muhammad Rian Zulfikar. Saya memanggilnya Bang Rian—sebuah sapaan yang lahir bukan karena jarak usia, melainkan karena kebiasaan saling menghargai. Ia pun memanggil saya dengan sebutan serupa, Bang Robby. Dalam relasi yang sederhana itu, terselip nilai yang kini terasa makin langka: respek yang tulus, tanpa pretensi.


Saya mengenalnya sekitar delapan tahun lalu, tak lama setelah ia kembali dari Inggris, tepatnya dari Birmingham City University. Pengalaman menempuh pendidikan di Eropa tak lantas mengikis identitas kulturalnya sebagai urang Banjar. Justru sebaliknya, sikap ramah, santun, dan cara bertutur yang mudah dipahami tetap melekat kuat. Ia tidak terjebak dalam gaya komunikasi yang artifisial atau berjarak.


Meski intensitas pertemuan kami tidak tinggi, komunikasi tetap terjaga—kadang hanya lewat tanda sederhana di media sosial, seperti menyukai unggahan atau membagikan berita. Namun, dari interaksi kecil itu, saya melihat konsistensi karakter yang jarang berubah.


Dari Dunia Usaha ke Panggung Politik


Sekembalinya ke Kalimantan Selatan, Rian tidak berlama-lama mencari ruang aktualisasi. Ia memilih bergabung dengan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), sebuah langkah yang sejalan dengan latar belakang dan minatnya di dunia usaha. Ketertarikannya pada berbagai sektor bisnis menunjukkan bahwa ia bukan sekadar organisator, tetapi juga seorang praktisi.


Pilihan untuk terjun ke politik praktis pada Pemilihan Legislatif 2024 menjadi babak baru dalam perjalanan hidupnya. Ia mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Kota Banjarmasin—sebuah keputusan yang tentu tidak ringan bagi anak muda seusianya.


Proses panjang itu berbuah hasil. Di usia 27 tahun, ia berhasil duduk sebagai anggota DPRD Kota Banjarmasin, menjadikannya salah satu legislator termuda. Capaian ini bukan hanya soal usia, tetapi juga tentang keberanian mengambil peran di ruang publik yang penuh tantangan.


Tulus dalam Berteman



Yang menarik, jabatan tidak mengubah cara Rian memperlakukan orang lain. Ia tetap menjadi pribadi yang sama seperti yang saya kenal dulu: santun, sabar, dan rendah hati. Dalam banyak kesempatan, saya tidak pernah melihat sikap berlebihan, apalagi kesombongan.


Di tengah realitas politik yang kerap menghadirkan jarak antara pejabat dan masyarakat, sikap seperti ini menjadi penting. Ia menunjukkan bahwa kekuasaan tidak harus mengubah watak dasar seseorang.


Menjunjung Etika dalam Berpolitik


Dalam sebuah percakapan singkat, Rian pernah menyampaikan satu kalimat yang membekas: “Tajam tak harus menyakiti.” Sebuah prinsip sederhana, tetapi sarat makna.


Di era di mana kritik sering kali disampaikan secara kasar dan personal, pandangan ini terasa relevan. Kritik tetap diperlukan sebagai bagian dari demokrasi, tetapi cara menyampaikannya menentukan kualitas ruang publik itu sendiri. Politik, dalam pandangan Rian, bukan arena saling menjatuhkan, melainkan ruang untuk memperbaiki.


Aset Masa Depan Kalsel


Kalimantan Selatan membutuhkan lebih banyak figur muda yang tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan etis. Dalam diri Rian, saya melihat kombinasi itu.


Tentu, perjalanan politiknya masih panjang. Akan ada banyak ujian, godaan, dan dinamika yang mengiringi. Namun, jika ia mampu menjaga konsistensi nilai yang selama ini dipegang—kerendahan hati, etika, dan keberpihakan pada masyarakat—maka bukan berlebihan jika ia disebut sebagai salah satu aset masa depan Kalimantan Selatan.


Pada akhirnya, politik bukan semata soal kekuasaan, tetapi tentang kepercayaan. Dan kepercayaan hanya bisa dirawat oleh mereka yang setia pada nilai, bahkan ketika tidak ada yang melihat.


Penulis merupakan Pimpinan Umum Media WWW.SUARAMILENIAL.ID 

Lebih baru Lebih lama