
Foto-Dok/CNN Indonesia
SUARAMILENIAL.ID, JAKARTA — Ancaman krisis bahan baku plastik mulai membayangi Indonesia. Tekanan ini dirasakan dari hulu industri petrokimia hingga pelaku usaha kecil, memunculkan pertanyaan: apakah kondisi ini sekadar peringatan dini atau sudah menjadi ancaman nyata bagi ekonomi nasional?
Sejumlah pelaku industri seperti Chandra Asri dan Lotte Chemical dilaporkan mulai menghadapi kelangkaan bahan baku. Di sisi lain, industri makanan dan minuman turut mengeluhkan lonjakan biaya kemasan yang berdampak pada harga jual produk.
Pengamat ekonomi dari Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai potensi krisis ini bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan akibat gangguan berlapis dalam rantai pasok global.
Menurutnya, konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah telah mengganggu jalur distribusi energi global, termasuk di Selat Hormuz. Kondisi ini mendorong kenaikan harga bahan baku seperti nafta dan propana yang menjadi fondasi industri petrokimia.
“Kenaikan harga bahan baku ini kemudian merambat ke produk turunan seperti etilena dan propilena hingga akhirnya menekan harga resin plastik,” ujarnya.
Syafruddin menegaskan, ancaman krisis plastik di Indonesia sudah mulai terasa dan perlu dipandang sebagai risiko ekonomi serius, meski belum mencapai tahap kelangkaan total.
“Tekanannya sudah terlihat dari kenaikan biaya bahan baku, ketidakpastian pengiriman, hingga menyempitnya margin industri,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet. Ia menyebut kondisi saat ini masih berada pada tahap peringatan dini (early warning), namun berpotensi berkembang menjadi krisis jika tidak segera diantisipasi.
Selain faktor global, tekanan domestik seperti pelemahan nilai tukar rupiah juga memperparah kondisi karena meningkatkan biaya impor bahan baku.
“Yang terjadi bukan hanya kelangkaan fisik, tetapi juga tekanan harga yang berlapis,” ujarnya.
Dampaknya diperkirakan meluas ke berbagai sektor, mulai dari makanan dan minuman, farmasi, hingga otomotif. Kenaikan harga resin plastik akan berdampak langsung pada produk sehari-hari seperti kemasan air minum, minyak goreng, hingga makanan olahan.
Kelompok usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) disebut menjadi pihak paling rentan. Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti, mengungkapkan harga plastik bahkan bisa melonjak hingga 50-100 persen akibat gangguan pasokan global.
“Kondisi ini sangat menekan UMKM, terutama sektor kuliner yang bergantung pada kemasan plastik,” ujarnya.
Akibatnya, pelaku usaha dihadapkan pada pilihan sulit antara menaikkan harga jual atau menekan margin keuntungan. Situasi ini berpotensi menekan daya beli masyarakat sekaligus memicu inflasi yang lebih luas.
Para ekonom sepakat pemerintah perlu bergerak cepat untuk mencegah tekanan ini berkembang menjadi krisis yang lebih dalam. Langkah jangka pendek dinilai harus fokus pada pengamanan pasokan dan stabilisasi harga.
Di sisi lain, strategi jangka panjang perlu diarahkan pada penguatan industri petrokimia dalam negeri serta diversifikasi sumber impor bahan baku.
“Ini harus menjadi momentum untuk memperkuat struktur industri nasional agar lebih tahan terhadap guncangan global,” kata Yusuf.
Tanpa langkah cepat dan terukur, tekanan dari krisis plastik dikhawatirkan tidak hanya mengganggu industri, tetapi juga berimbas pada perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional.
Sumber : CNN Indonesia