
Foto-Dok/CNN Indonesia
SUARAMILENIAL.ID, JAKARTA – Program nuklir Iran kembali menjadi sorotan dunia setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan ingin menghentikan pengayaan uranium Teheran sepenuhnya.
Pemerintah AS menilai Iran sudah berada di titik yang mendekati kemampuan memproduksi senjata nuklir. Namun, Iran membantah tuduhan tersebut dan mengeklaim pengayaan uranium dilakukan untuk kebutuhan sipil, termasuk pembangkit listrik tenaga nuklir.
Dalam penggunaan sipil, uranium umumnya diperkaya hingga kadar 3 sampai 5 persen. Sementara untuk senjata nuklir, uranium harus diperkaya hingga sekitar 90 persen.
Uranium sendiri merupakan logam radioaktif yang ditemukan secara alami di batuan, tanah, hingga air laut. Bahan ini menjadi komponen utama untuk bahan bakar reaktor nuklir maupun senjata nuklir.
Sebelum digunakan, uranium harus melalui serangkaian proses pengolahan yang panjang dan kompleks.
Tahap pertama dikenal sebagai yellowcake, yakni proses mengubah bijih uranium menjadi bubuk kasar melalui bahan kimia.
Selanjutnya, bahan tersebut diubah menjadi uranium tetrafluorida atau “garam hijau”, yang berbentuk kristal berwarna hijau zamrud.
Proses berikutnya menghasilkan uranium hexafluorida, yaitu kristal putih yang dapat berubah menjadi gas ketika dipanaskan. Bentuk gas inilah yang kemudian digunakan dalam proses pengayaan uranium menggunakan mesin sentrifugal.
Setelah itu, uranium diubah menjadi uranium dioksida berbentuk bubuk hitam halus. Bubuk tersebut kemudian diproses menjadi fuel pellets atau pelet keramik hitam yang digunakan sebagai bahan bakar reaktor nuklir.
Pengayaan uranium menjadi perhatian internasional karena teknologi yang sama dapat dipakai untuk kebutuhan energi maupun pengembangan senjata nuklir.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) selama ini terus memantau aktivitas nuklir Iran untuk memastikan program tersebut tetap berada dalam jalur damai.
Sumber : CNN Indonesia