Rupiah Melemah ke Rp17.879 per Dolar AS, Nyaris Sentuh Level Rp18.000

Foto-Dok/CNN Indonesia


SUARAMILENIAL.ID, JAKARTA
– Nilai tukar rupiah membuka perdagangan Selasa (2/6) dengan tekanan cukup besar setelah melewati libur panjang Iduladha dan Hari Pancasila. Mata uang Garuda tercatat berada di level Rp17.879 per dolar Amerika Serikat (AS) atau melemah 74 poin dibandingkan penutupan sebelumnya.

Pelemahan tersebut membuat rupiah semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS yang selama ini menjadi perhatian pelaku pasar dan investor.

Berdasarkan data perdagangan pagi, rupiah terkoreksi sekitar 0,42 persen terhadap mata uang Negeri Paman Sam. Kondisi ini terjadi di tengah penguatan dolar AS yang mendapat dukungan dari sentimen global.

Mata Uang Asia Bergerak Variatif

Pergerakan mata uang di kawasan Asia pada perdagangan hari ini menunjukkan tren yang beragam.

Yuan China tercatat menguat tipis terhadap dolar AS, sementara ringgit Malaysia bergerak relatif stabil. Di sisi lain, sejumlah mata uang Asia lainnya mengalami pelemahan, termasuk peso Filipina, dolar Singapura, yen Jepang, won Korea Selatan, dan dolar Hong Kong.

Tekanan terhadap mata uang regional menunjukkan bahwa penguatan dolar AS tidak hanya berdampak pada rupiah, tetapi juga dirasakan oleh sejumlah negara di kawasan.

Gejolak Timur Tengah Jadi Sorotan Pasar

Analis mata uang menilai pelemahan rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global, terutama terkait perkembangan geopolitik di Timur Tengah.

Ketegangan meningkat setelah muncul laporan mengenai penghentian perundingan damai antara Iran dan Amerika Serikat. Situasi tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas jalur perdagangan energi dunia, termasuk potensi gangguan di Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur distribusi minyak terpenting secara global.

Kondisi tersebut mendorong investor mencari aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS, sehingga mata uang Amerika kembali menguat terhadap sejumlah mata uang dunia.

Data Ekonomi AS Perkuat Dolar

Selain faktor geopolitik, penguatan dolar juga ditopang oleh data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan performa lebih baik dari perkiraan pasar.

Data sektor manufaktur AS yang lebih kuat memberikan sinyal bahwa aktivitas ekonomi masih cukup solid. Sentimen ini membuat ekspektasi terhadap dolar AS tetap positif dan menambah tekanan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Rupiah Diperkirakan Bergerak di Kisaran Rp17.800-Rp17.900

Pengamat pasar memperkirakan pergerakan rupiah sepanjang perdagangan hari ini masih berada dalam rentang Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS.

Pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan geopolitik global serta sejumlah data ekonomi internasional yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan mata uang dalam jangka pendek.

Dengan posisi yang semakin dekat ke level Rp18.000 per dolar AS, pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan diperkirakan masih akan menjadi perhatian utama pasar keuangan nasional.

Sumber : CNN Indonesia

Lebih baru Lebih lama