![]() |
| Presiden Prabowo Subianto meminta Kementerian Pertanian mempercepat langkah antisipasi menghadapi dampak fenomena El Nino yang diperkirakan semakin menguat dalam beberapa bulan ke depan. Foto-ANTARA |
SUARAMILENIAL.ID, JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto meminta Kementerian Pertanian mempercepat langkah antisipasi menghadapi dampak fenomena El Nino yang diperkirakan semakin menguat dalam beberapa bulan ke depan. Fokus pemerintah diarahkan pada mitigasi kekeringan agar tidak mengganggu produksi pangan nasional.
Arahan tersebut disampaikan Presiden saat menerima Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Usai pertemuan, Amran mengatakan Presiden meminta percepatan berbagai langkah mitigasi, terutama di daerah yang mulai mengalami kekeringan. Upaya yang dilakukan meliputi pompanisasi, perbaikan jaringan irigasi, serta penyediaan pasokan air bagi lahan pertanian.
"Arahan Bapak Presiden, tolong diantisipasi terutama daerah yang kering supaya pompanisasi kita jalankan, irigasi diperbaiki, dan seterusnya," kata Amran dilansir CNN Indonesia.
Selain membahas mitigasi El Nino, Amran melaporkan kondisi pangan nasional yang menurutnya masih dalam keadaan aman.
Pemerintah telah memetakan sekitar 35 ribu hektare lahan pertanian yang terdampak kekeringan. Namun, luas tersebut dinilai masih relatif kecil sehingga belum mengancam ketahanan pangan nasional.
Menurut Amran, pemerintah memiliki sejumlah cadangan untuk menjaga pasokan pangan, mulai dari tanaman padi yang masih berada di lahan (standing crop), stok beras di sektor hotel, restoran, dan katering (horeka), hingga cadangan beras pemerintah yang dikelola Perum Bulog.
Ia menyebut total ketersediaan beras saat ini diperkirakan mencapai sekitar 26 juta ton atau setara kebutuhan nasional selama sekitar 10 bulan.
"Insya Allah kita bisa atasi karena ada standing crop, stok di horeka, ditambah stok Bulog. Totalnya sekitar 26 juta ton, setara 10 bulan," ujarnya.
Amran juga menegaskan kondisi cadangan beras pemerintah saat ini jauh lebih baik dibandingkan ketika Indonesia menghadapi El Nino pada 2023.
Saat itu, stok beras pemerintah sempat berada di kisaran 1 juta ton, bahkan pernah turun hingga sekitar 500 ribu ton. Kini, stok Bulog disebut telah mencapai sekitar 5 juta ton.
Sementara itu, ancaman El Nino diperkirakan masih akan berlanjut. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan indikator iklim menunjukkan El Nino berkekuatan kuat dan berpotensi terus menguat sepanjang tahun ini. Kondisi tersebut dapat mengurangi curah hujan di sejumlah wilayah sehingga meningkatkan risiko kekeringan.
Prediksi serupa disampaikan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat yang memperkirakan El Nino akan bertahan hingga awal 2027.
Sejumlah pakar bahkan memperkirakan fenomena tahun ini berpotensi berkembang menjadi Super El Nino, yang dapat berdampak lebih besar terhadap sektor pertanian, ketersediaan air, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.
BMKG mengingatkan bahwa El Nino berpotensi menurunkan produktivitas pertanian, menghambat pertumbuhan tanaman, serta meningkatkan risiko gagal panen akibat berkurangnya ketersediaan air.
Editor : Muhammad Robby
