
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan menggelar Pamor Borneo 2026 di Banjarmasin pada 7–9 Agustus 2026.
SUARAMILENIAL.ID, BANJARMASIN – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan menggelar Pamor Borneo 2026 di Banjarmasin pada 7–9 Agustus 2026. Kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi ke-76 Provinsi Kalimantan Selatan itu difokuskan untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi Kalimantan melalui pengembangan UMKM, investasi, dan digitalisasi sistem pembayaran.
Mengusung tema “Unlocking Kalimantan’s Value-Added Growth Potential for Economic Prosperity”, Pamor Borneo 2026 menjadi wadah kolaborasi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, investor, pelaku usaha, akademisi, serta masyarakat dalam mendorong transformasi ekonomi Kalimantan menuju pertumbuhan yang berkelanjutan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan, Haris Munandar, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk komitmen bersama dalam meningkatkan daya saing Kalimantan Selatan dan wilayah Kalimantan secara keseluruhan.
“Kami berharap Pamor Borneo 2026 dapat berkontribusi nyata dalam memperluas akses pasar dan pembiayaan UMKM, meningkatkan peluang investasi pada sektor riil, serta mendorong perluasan akseptasi digital di daerah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Kalimantan,” ujar Haris.
Pamor Borneo 2026 menghadirkan dua agenda utama, yakni Investment Forum yang berisi seminar dan business matching proyek investasi, serta Trade and Financing Fair yang menampilkan produk unggulan UMKM, layanan pembiayaan, hingga edukasi literasi ekonomi dan keuangan.
Selain itu, masyarakat juga mendapat edukasi mengenai ekonomi syariah, sistem pembayaran digital, pelindungan konsumen, serta program Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah.
Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin mengatakan Pamor Borneo yang rutin digelar sejak 2020 telah menjadi sarana strategis untuk memperkenalkan potensi ekonomi daerah sekaligus memperkuat sektor UMKM, investasi, dan digitalisasi pembayaran.
Menurut dia, target pemerintah pusat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen menjadi peluang besar bagi Kalimantan Selatan untuk memperkuat perannya sebagai gerbang logistik nasional.
“Kami mengharapkan agar semangat sinergi dan kolaborasi dapat terus terjalin untuk mewujudkan Kalimantan Selatan yang makmur, sejahtera, dan berkelanjutan,” kata Muhidin.
Sementara itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman menilai pencapaian pertumbuhan ekonomi yang tinggi memerlukan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan.
Ia mengapresiasi berbagai inisiatif yang telah dibangun pemerintah daerah bersama Bank Indonesia dalam mendukung transformasi ekonomi di Kalimantan.
Pada sektor perdagangan, Pamor Borneo 2026 berhasil mencatat komitmen kerja sama antara pelaku UMKM dan sektor perhotelan di Kalimantan Selatan senilai Rp100 juta. Selain itu, potensi penyaluran kredit dan pembiayaan kepada UMKM mencapai lebih dari Rp6,2 miliar untuk mendukung pengembangan usaha.
Di bidang investasi, kegiatan tersebut menawarkan 15 proyek investasi strategis, terdiri dari tujuh proyek di Kalimantan Selatan dan delapan proyek dari provinsi lain di Kalimantan.
Forum tersebut dihadiri lebih dari 20 calon investor dan menghasilkan 12 Letter of Interest (LoI) untuk tujuh proyek investasi dengan nilai potensi mencapai Rp62,69 triliun.
Sementara pada pilar digitalisasi, Bank Indonesia terus memperluas penggunaan sistem pembayaran digital melalui inovasi QRIS Tap, yang memungkinkan transaksi dilakukan hanya dengan menempelkan ponsel ke mesin pembayaran.
Layanan tersebut kini telah diterapkan pada transportasi umum Trans Banjarbakula, Trans Banjarmasin, serta sejumlah pusat perdagangan di Kalimantan Selatan.
Melalui sinergi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, dan berbagai mitra strategis, Pamor Borneo 2026 diharapkan mampu mempercepat transformasi ekonomi Kalimantan dari yang bertumpu pada sumber daya alam menjadi ekonomi yang lebih bernilai tambah, inklusif, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat posisi Kalimantan sebagai Superhub Ekonomi Nusantara yang berdaya saing global.