SUARAMILENIAL.ID, JAKARTA — Sejumlah wilayah Indonesia berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dan angin kencang pada Senin (14/9/2026). Kalimantan Selatan termasuk wilayah yang perlu mewaspadai potensi angin kencang.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini hujan untuk periode 13-15 September 2026. Untuk Senin, potensi hujan sedang hingga lebat atau kategori Waspada terdapat di Aceh, Sumatera Utara, dan Kepulauan Riau.
Tidak ada wilayah yang masuk kategori Siaga, yakni berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat. BMKG juga tidak menetapkan wilayah dalam kategori Awas atau berpotensi mengalami hujan sangat lebat hingga ekstrem.
Daerah Berpotensi Angin Kencang
Selain potensi hujan, BMKG memperingatkan angin kencang di sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan Selatan.
Wilayah tersebut meliputi Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat Daya, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan Sumatera Selatan.
Musim Kemarau Masih Dominan
Di tengah potensi hujan di sejumlah wilayah, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam periode musim kemarau. Analisis perkembangan musim kemarau dasarian I September 2026 menunjukkan sekitar 80,7 persen wilayah Indonesia atau 564 Zona Musim (ZOM) masih mengalami musim kemarau.
BMKG memperkirakan curah hujan di sebagian besar wilayah berada pada kategori rendah hingga menengah.
“Curah hujan rendah diprakirakan masih mendominasi sebagian besar Sumatra bagian selatan, seluruh Pulau Jawa, sebagian besar Bali-Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, serta sebagian besar Papua, sehingga kondisi kering diprediksi masih akan berlanjut,” tulis BMKG dalam prakiraan Potensi Hujan Indonesia Sepekan ke Depan periode 11-17 September 2026.
Meski demikian, hujan masih berpeluang terjadi di sebagian Sumatra, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Barat, Papua Pegunungan, dan Papua.
Potensi hujan tersebut dipengaruhi aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial dan Gelombang Kelvin, serta terbentuknya daerah perlambatan dan pertemuan angin di sejumlah wilayah Indonesia.
Kondisi atmosfer yang cukup labil, terutama di sebagian Sumatra dan Papua, turut mendukung pertumbuhan awan hujan. Faktor konvektif lokal juga diperkirakan berpengaruh terhadap pembentukan awan hujan.
BMKG mengingatkan bahwa meskipun kondisi kering masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia, potensi hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat secara lokal tetap perlu diwaspadai.
Sebaliknya, wilayah yang masih mengalami curah hujan rendah perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta penyebaran asap.
Editor : Muhammad Robby
