Prof. Bhayu Rhama dan Babak Baru Universitas Palangka Raya

Prof. Bhayu Rhama, S.T., M.B.A., Ph.D.,

Oleh: Rahmat Kamaruddin


Ada perjalanan yang pada akhirnya membawa seseorang kembali ke tempat ia bermula. Prof. Bhayu Rhama, S.T., M.B.A., Ph.D., tumbuh di Palangka Raya sejak 1979. 


Pendidikan dasar hingga sekolah menengah pertama ditempuh di kota ini sebelum ia melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri 1 Solo. 


Setelah itu, perjalanan akademiknya membawanya ke Yogyakarta dan kemudian ke Inggris. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di Universitas Atma Jaya Yogyakarta pada 2001, magister di University of Wolverhampton pada 2004, dan doktoral di University of Central Lancashire pada 2017, dengan bidang yang berkaitan dengan manajemen dan kebijakan pariwisata.


Kini, setelah menempuh perjalanan akademik dan profesional selama lebih dari dua dekade, Bhayu kembali memperoleh mandat yang lebih besar di tanah kelahirannya. Pada 1 Oktober 2026, ia terpilih sebagai Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) periode 2026-2030 setelah memperoleh 37 suara dari total 63 suara dalam pemilihan rektor tahap kedua. Ia dijadwalkan segera dilantik di Jakarta.


Terpilihnya Bhayu tentu menandai pergantian kepemimpinan. Namun, pergantian rektor pada sebuah perguruan tinggi tidak pernah sekadar pergantian orang. Ia selalu membawa pertanyaan tentang arah perjalanan institusi. Universitas seperti apa yang hendak dibangun, untuk siapa pengetahuan diproduksi, dan seberapa jauh kampus mampu menjawab persoalan masyarakat di sekitarnya.


Pertanyaan itu menjadi semakin penting bagi UPR. Sebagai perguruan tinggi negeri di Kalimantan Tengah, UPR tidak hidup di ruang akademik yang terpisah dari dinamika daerah. Ia berada di tengah wilayah dengan kekayaan sumber daya alam, keanekaragaman hayati, kebudayaan, masyarakat adat, persoalan lingkungan, serta tantangan pembangunan yang kompleks. Karena itu, masa depan UPR juga berkaitan dengan masa depan Kalimantan Tengah.


Dari Palangka Raya, Melihat Dunia


Salah satu hal menarik dari perjalanan Bhayu adalah pertemuan antara pengalaman lokal dan pendidikan internasional. Ia tumbuh di Palangka Raya, tetapi memperoleh pengalaman pendidikan di Inggris. Dalam dokumen gagasan kepemimpinannya, pengalaman tersebut dipandang sebagai bekal untuk mengintegrasikan perspektif global dengan kebutuhan pembangunan daerah dan nasional.


Pengalaman itu kemudian tercermin dalam bidang yang ia tekuni. Penelitiannya tidak hanya berbicara tentang pariwisata dalam pengertian industri perjalanan, tetapi bersinggungan dengan kebijakan publik, pembangunan berkelanjutan, ekowisata, lingkungan, ketahanan pangan, dan pembangunan daerah.


Dalam beberapa tahun terakhir, misalnya, ia terlibat dalam penelitian tentang pengembangan konsep Halal Industrial Park untuk mendukung ekonomi hijau di kawasan Taman Nasional Sebangau, pariwisata gastronomi di Kalimantan Tengah, potensi sosial dan ekonomi desa tertinggal di Pulang Pisau, jaringan pasar tradisional untuk mendukung ketahanan pangan, serta persoalan gambut dan ekowisata di Taman Nasional Sebangau. 


Dari sini terlihat bahwa Kalimantan Tengah bukan sekadar latar geografis dalam perjalanan akademiknya. Daerah ini juga menjadi ruang tempat gagasan dan pengetahuannya diuji.


Itulah modal yang menarik ketika seseorang dengan latar belakang seperti Bhayu kemudian memimpin universitas di daerah yang sama. Pengalaman internasional dapat digunakan untuk membaca persoalan lokal dengan perspektif yang lebih luas, sementara pengalaman lokal dapat menjadi sumber pengetahuan yang dibawa ke ruang nasional dan internasional.


Dosen yang Tumbuh Bersama UPR


Bhayu juga bukan orang luar yang tiba-tiba datang untuk memimpin UPR. Ia mulai mengabdi sebagai dosen FISIP UPR pada 2010. 


Setelah itu, ia menjalani berbagai tahapan kepemimpinan di lingkungan kampus, antara lain sebagai Sekretaris Jurusan Ilmu Administrasi Negara, Staf Ahli Rektor UPR pada 2019-2022, Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan FISIP pada 2020-2023, hingga dipercaya menjadi Dekan FISIP sejak 2023. 


Ia juga memiliki pengalaman sebagai asesor BAN-PT, asesor kompetensi analis kebijakan publik BNSP, reviewer beasiswa LPDP, dan berbagai peran profesional lainnya.


Jalur tersebut penting untuk memahami karakter kepemimpinannya. Ia mengalami universitas dari beberapa posisi sekaligus. Sebagai dosen, peneliti, pengelola fakultas, asesor mutu pendidikan tinggi, dan mitra berbagai lembaga.


Pengalaman itu membuat persoalan universitas tidak berhenti pada ruang kelas. Ia berhadapan pula dengan persoalan tata kelola, sumber daya manusia, akreditasi, pembiayaan, kerja sama kelembagaan, dan hubungan antara kampus dengan pemangku kepentingan di luar kampus.


Dalam perjalanan profesionalnya, Bhayu juga pernah menjadi Direktur PT Barama Intercity Treducasindo dan memiliki pengalaman bekerja di Lancashire County Council, Inggris. Ia pernah memimpin DPD ASITA Kalimantan Tengah serta DPC Komite Seni Budaya Nusantara Kota Palangka Raya. Pengalaman lintas sektor tersebut menjadi bagian dari jejaring yang dibawanya ke dunia akademik. 


Dengan demikian, sosok Bhayu tidak sepenuhnya dapat dibaca hanya sebagai akademisi. Ia berada di persimpangan antara akademisi, pengelola institusi, praktisi, organisasi profesi, pemerintah daerah, dan dunia usaha.


Riset yang Berangkat dari Borneo


Universitas yang baik tidak hanya mengajarkan pengetahuan. Ia juga memproduksi pengetahuan.


Di titik ini, rekam jejak Bhayu sebagai peneliti menjadi relevan. Dalam dokumen profilnya, ia mencatat puluhan publikasi ilmiah nasional dan internasional, termasuk artikel pada jurnal terindeks Scopus, buku, book chapter, serta berbagai prosiding konferensi internasional.


Salah satu publikasinya membahas kebijakan ketahanan pangan melalui pemetaan pasar tradisional di Kalimantan Tengah. Publikasi lain membahas pariwisata berkelanjutan, kawasan taman nasional, ekowisata, industri pariwisata, hingga adaptasi masyarakat terhadap perubahan sosial.


Ada sesuatu yang menarik dari arah penelitian tersebut. Banyak di antaranya bertemu dengan persoalan konkret yang dihadapi Kalimantan Tengah.


Karena itu, tantangan Bhayu sebagai rektor bukan lagi sekadar mempertahankan produktivitas akademiknya sendiri. Tantangan yang jauh lebih besar adalah bagaimana membangun ekosistem agar produktivitas semacam itu menjadi budaya kelembagaan di UPR.


Dosen tidak hanya didorong menulis artikel, tetapi juga menghasilkan penelitian yang dibutuhkan masyarakat. Riset tidak berhenti sebagai publikasi, tetapi dapat diterjemahkan menjadi inovasi, rekomendasi kebijakan, dan kerja sama dengan pemerintah maupun dunia usaha.


Dengan kata lain, kampus harus menjadi tempat pengetahuan diproduksi sekaligus tempat pengetahuan bekerja.


Borneo Impact and Global Recognition


Gagasan utama yang ditawarkan Bhayu untuk UPR dirangkum dalam konsep "Borneo Impact and Global Recognition". Visi ini diarahkan untuk menjadikan UPR sebagai perguruan tinggi unggul berbasis falsafah Huma Betang, berdaya saing global, dan memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan berkelanjutan. 


Dalam rumusan misinya, pendidikan dikaitkan dengan Outcome-Based Education, transformasi digital, karakter Pancasila dan nilai Belom Bahadat. Riset diarahkan pada potensi strategis daerah dan kolaborasi lintas sektor, sedangkan pengabdian masyarakat ditempatkan sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat. 


Gagasan tersebut menarik karena menawarkan hubungan antara lokalitas dan globalitas.


Selama ini, internasionalisasi perguruan tinggi terkadang dipahami secara sederhana sebagai peningkatan jumlah kerja sama luar negeri, mobilitas mahasiswa, atau publikasi internasional. 


Padahal, bagi universitas yang berada di Kalimantan, ada pertanyaan yang lebih mendasar, "Apa yang dapat ditawarkan Borneo kepada dunia?"


Hutan tropis, gambut, keanekaragaman hayati, kebudayaan masyarakat adat, pembangunan wilayah, pangan, energi, dan berbagai persoalan sosial di Kalimantan Tengah sesungguhnya merupakan laboratorium pengetahuan yang sangat besar.


Jika dikelola secara serius, persoalan lokal dapat menjadi agenda riset global. Pengetahuan tentang Borneo dapat menjadi kontribusi akademik Indonesia kepada dunia.


Karena itu, global recognition tidak harus berarti UPR meninggalkan identitas lokalnya. Justru sebaliknya, reputasi global dapat dibangun dengan memperkuat apa yang menjadi kekhasan daerah.


Universitas dan Masa Depan Kalteng


Di sinilah tantangan kepemimpinan Bhayu menjadi lebih besar daripada sekadar meningkatkan reputasi universitas. Kalimantan Tengah membutuhkan sumber daya manusia yang mampu memahami perubahan ekonomi, teknologi, lingkungan, dan sosial. 


Pemerintah daerah membutuhkan riset yang dapat membantu merumuskan kebijakan. Dunia usaha membutuhkan inovasi dan tenaga kerja yang kompeten. Masyarakat membutuhkan kampus yang tidak hanya berbicara tentang persoalan mereka, tetapi ikut mencari jalan keluarnya.


Dalam blueprint kepemimpinannya, Bhayu menempatkan UPR sebagai mitra strategis pembangunan daerah. Ia menawarkan penguatan pendidikan, riset, pengabdian kepada masyarakat, tata kelola, sumber daya manusia, dan kerja sama sebagai bagian dari agenda pengembangan universitas. 


Delapan program prioritas yang dirancangnya mencakup reformasi tata kelola berbasis integritas dan kinerja, pendidikan dan pengabdian berbasis kearifan lokal, penjaminan mutu, transformasi digital, riset unggulan berbasis sumber daya alam, pengembangan mahasiswa, kemitraan strategis dan skema carbon trading, serta penguatan kampus inklusif, berkelanjutan, dan bereputasi global.


Daftar tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan rumah UPR tidak dilihat secara sektoral. Pendidikan, riset, tata kelola, digitalisasi, mahasiswa, pembiayaan, lingkungan, dan internasionalisasi ditempatkan dalam satu ekosistem.


Namun, gagasan sebesar itu tentu membutuhkan kerja kelembagaan yang tidak sederhana.


Rektor Baru dan Rumah Bersama


Setiap pergantian kepemimpinan selalu membawa harapan sekaligus ekspektasi. Bhayu sendiri menyadari bahwa UPR tidak dapat dibangun oleh seorang rektor seorang diri. 


Setelah terpilih, ia menyatakan bahwa UPR merupakan “rumah bersama” dan berkomitmen merangkul seluruh elemen kampus, termasuk mereka yang sebelumnya ikut dalam kontestasi pemilihan rektor. 


Pernyataan itu penting karena universitas bukan organisasi yang dapat digerakkan hanya dengan instruksi. Universitas tumbuh melalui kepercayaan, kebebasan akademik, kolaborasi, dan partisipasi. Rektor dapat menentukan arah, tetapi kualitas universitas pada akhirnya ditentukan oleh kemampuan seluruh sivitas akademika bergerak menuju tujuan yang sama.


Karena itu, babak baru UPR sesungguhnya bukan hanya tentang Prof. Bhayu Rhama. Ia tentang apakah UPR mampu menemukan bentuk terbaiknya sebagai universitas yang berakar di Borneo, relevan bagi Kalimantan Tengah, berkontribusi bagi Indonesia, dan pada saat yang sama mampu berbicara dalam percakapan akademik dunia.


Bhayu membawa pengalaman panjang menuju mandat tersebut. Ia pernah menjadi mahasiswa yang meninggalkan Palangka Raya untuk belajar, kembali sebagai dosen, tumbuh menjadi pengelola fakultas, menjalani dunia penelitian dan profesional, membangun jejaring nasional dan internasional, kemudian dipercaya memimpin universitas.


Kini perjalanan itu memasuki fase yang berbeda. Ukuran keberhasilannya kelak bukan semata-mata berapa banyak program yang diluncurkan atau berapa banyak kerja sama yang ditandatangani. 


Ukuran yang lebih penting adalah apakah UPR menjadi lebih kuat dalam menghasilkan lulusan, lebih produktif dalam menghasilkan pengetahuan, lebih bermanfaat bagi masyarakat, lebih dekat dengan persoalan pembangunan Kalimantan Tengah, dan lebih dikenal karena karya-karyanya.


Sebab universitas pada akhirnya bukan hanya tentang gedung, jabatan, atau reputasi. Universitas adalah tentang pengetahuan yang mengubah cara manusia memahami dunia dan tentang manusia terdidik yang kemudian mengubah dunia di sekitarnya. 


Prof. Bhayu Rhama kini mendapat kesempatan untuk membawa UPR menuju arah tersebut. Dari Palangka Raya ia pernah berangkat untuk melihat dunia. 


Kini, dari Palangka Raya pula, tantangannya adalah membantu UPR membuat dunia melihat Borneo melalui ilmu pengetahuan, riset, kebudayaan, inovasi, dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Di situlah makna sesungguhnya dari “Borneo Impact and Global Recognition”.


Penulis merupakan Tenaga Ahli Kemdikti Saintek RI

Lebih baru Lebih lama